Tampilkan postingan dengan label budidaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budidaya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 September 2011

ANATOMI DAN FISIOLOGI IKAN NILA


fish-anatomyanatomy-of-a-fish

ANATOMI DAN FISIOLOGI IKAN NILA HITAM
Pencernaan secara fisik dan mekanik dimulai di bagian rongga mulut yaitu dengan berperannya gigi pada proses pemotongan dan penggerusan makanan. Pencernaan secara mekanik ini juga berlangsung di segmen lambung dan usus yaitu melalui gerakan-gerakan (kontraksi) otot pada segmen tersebut. Pencernaan secara mekanik di segmen lambung dan usus terjadi lebih efektif oleh karena adanya peran cairan digestif. Pada ikan, pencernaan secara kimiawi dimulai di bagian lambung, hal ini dikarenakan cairan digestif yang berperan dalam proses pencernaan secara kimiawi mulai dihasilkan di segmen tersebut yaitu disekresikan oleh kelenjar lambung. Pencernaan ini selanjutnya disempurnakan di segmen usus. Cairan digestif yang berperan pada proses pencernaan di segmen usus berasal dari hati, pankreas, dan dinding usus itu sendiri. Kombinasi antara aksi fisik dan kimiawi inilah yang menyebabkan perubahan makanan dari yang asalnya bersifat komplek menjadi senyawa sederhana atau yang asalanya berpartikel makro menjadi partikel mikro. Bentuk partikel mikro inilah makanan menjadi zat terlarut yang memungkinkan dapat diserap oleh dinding usus yang selanjutnya diedarkan ke seluruh tubuh. .
Anatomi dan Fisiologi Ikan nila
DEFINISI IKAN (PISCES)
Bertulang belakang (termasuk vertebrata), habitatnya perairan, bernapas dengan insang (terutama), bergerak dan menjaga keseimbangan tubunya menggunakan sirip-sirip, bersifat poikilotermal.
MORFOLOGI (Bentuk Tubuh) IKAN

Bervariasi sekali, tetapi morfologi dasarnya adalah terdiri dari gambar 1, gambar 2.a bentuk umum : bilateralkepala, badan, dan ekor simetri, dan gambar 2.b nonsimetri

ikan nila ( Oreochromis niloticus )
Kerajaan: Animalia

Filum: Chordata

Kelas: Actinopterygii

Ordo: Perciformes

Famili: Cichlidae

Genus: Oreochromis

Spesies: O. niloticus

ANATOMI
Ada 10 sistem anatomi pada tubuh ikan :
1. Sistem penutup tubuh (kulit) : antara lain sisik, kelenjar racun, kelenjar lendir, dan sumber-sumber pewarnaan.
2. Sistem otot (urat daging): – penggerak tubuh, sirip-sirip, insang
- organ listrik
3. Sistem rangka (tulang) : tempat melekatnya otot; pelindung organ-organ dalam dan penegak tubuh
4. Sistem pernapasan (respirasi): organnya terutama insang; ada organ-organ tambahan
5. Sistem peredaran darah (sirkulasi) : – organnya jantung dan sel-sel darah
- mengedarkan O2, nutrisi, dsb
6. Sistem pencernaan : organnya saluran pencernaan dari mulut – anus
7. Sistem saraf : organnya otak dan saraf-saraf tepi
8. Sistem hormon : kelenjar-kelenjar hormon; untuk pertumbuhan, reproduksi, dsb
9. Sistem ekskresi dan osmoregulasi : organnya terutama ginjal
10. Sistem reproduksi dan embriologi : organnya gonad jantan dan betina
Ada hubungan yg sangat erat antara ke-10 sistem anatomi tersebut, misalnya :
menentukan cara bergeraknya mempengaruhi bentuk tubuh - sistem urat daging dan sistem rangka
- O2 dari perairan ditangkap olehsistem pernafasan dan peredaran darah dibawa ke seluruh tubuh melalui darahdarah, dipertukarkan dg CO2
ANATOMI IKAN
1. B – S Ikan mempunyai variasi antara lain dalam hal bentuk, ekologi, habitat, keragaman jenis dan reproduksi
2. B – S Organ pada kulit adalah sisik, kelenjar lendir, organ cahaya dan organ listrik
3. B – S Fungsi pewarnaan pada tubuh ikan adalah untuk penyalamatan diri dan mencari makan
4. B – S Organ cahaya pada ikan ada dua macam, yaitu simbiosis mutualistik antara ikan dengan bakteri yang mengeluarkan cahaya dan berasal dari modifikasi kelenjar lendir
5. B – S Walaupun bentuk ikan bervariasi tetapi pola umumnya tetap yakni terdiri dari bagian kepala, badan, dan ekor.
6. B – S Ikan selain menguntungkan bagi manusia, tetapi ada juga bahayanya misalnya ikan buas, ikan beracun dan berorgan listrik
7. B – S Dalam sistem sirkulasi, jantung merupakan organ yang sangat penting karen berperan sebagai pemompa darah ke seluruh bagian tubuh dan bekerja secara otomatis di bawah kendali saraf pusat (Involunteer)
8. B – S Alat pernapasan tambahan pada ikan berfungsi untuk mengambil O2 dari dalam air karena kerja insang kurang efektif
9. B – S Morfologi ikan merupakan kombinasi sistem rangka dan urat daging sebagai evolusi adaptasi ikan terhadap lingkungannya
10. B – S Darah berfungsi mengangkut sari-sari makanan, hormon-hormon, antibodi dan sisa-sisa metabolisme gas-gas antara lain O2

Senin, 14 Maret 2011

STRATEGI MUSIM TANAM BUDIDAYA TAMBAK UNTUK HASIL OPTIMAL

PENDAHULUAN
Strategi musim tanam yang tepat pada usaha komoditas budidaya di tambak, khususnya udang merupakan salah satu keberhasilan dalam produksi lencapai ketingkat yang optimal. Kegagalan (panen premateur) tersebut, selain akibat penyakit yang bersifat massal dan mematikan in pula para petambak salah dalam memilih waktu tanam.

Periode musim dalam satu tahun di Indonesia dikenal 2 musim, yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Kaitannya dengan musim tanam ini, ia usaha budidaya udang diperlukan kecermatan untuk memprediksi peluang keberhasilan yang maksimal. Dengan demikian, informasi ini diharapkan akan memberi gambaran secara umum tentang musim tanam yang tepat untuk kegiatan usaha budidaya di tambak.

Tujuan dari infornasi ini adalah : 1) Petambak agar memperoleh informasi musim tanam yang tepat untuk kegiatan usaha komoditas budidaya di tambak; 2) Sebagai pedoman dan petunjuk bagi petambak dalam melakukan proses produksi budidaya komoditas tambak; dan 3) Membantu petambak agar mampu memprediksi musim tanam yang tepat. Sedangkan yang dicapai sebagai berikut :1) mengoptimalkan lahan dalam musim tanam yang tepat; 2)Memperoleh hasil (produksi) yang optimal; dan 3) dapat memperoleh keuntungan yang pasti setiap mengoperasionalkan tambaknya (jaminan > 80 %).

MUSIM
Indoesia mempunyai dua musim, yaitu penghujan dan kemarau. Kedua musim ini secara langsung mikroklimat yang berbeda, dalam hal ini mikroklimat tambak untuk kegiatan usaha budidaya. Kedua musim tersebut masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan bagi organisma (biota) air idayakan (Tabel 1). Maka   dengan    kondisi demikian petambak secara cermat harus mewaspadai dan memilih musim tanam yang tepat sesuai komoditas budidaya tambak yang akan diusahakan.

Tabel 1.    Kelebihan dan kekurangan periode musim bagi usaha budidaya tambak

Parameter

Musim Kemarau

Musim Penghujan

Kelebihan

Kekurangan

Kelebihan

Kekurangan

Salinitas

Relatif Tinggi

> 35 ppt

Relatif Optimal

< 5 ppm

PH

Normal

> 8,5

Normal

-

Suhu Air

-

Fluktuatif

Relatif Stabil

-

Alkalinitas

90 - 180 ppm

Bisa > 180 ppm

90 - 120 ppm

Bisa <90

Kekruhan Air Sumber

Lebih Jernih

-

-

Cukup Keruh

Limbah Bawaan

Relatif Kurang

-

-

Cukup Tinggi

Kondisi Plankton

-

Fluktuatif

Relatif Stabil

-

Kondisi Bakteri dan Vibrio

-

Melebihi Batas

Relatif dibawah batas ambang

-

Virus SEMBV

-

Sensitif Serangan virus

T Tahan serangan virus

-

DAMPAK BEBERAPA PARAMETER KUNCI
KUALITAS AIR
Salinitas

Untuk tumbuh dan berkembangnya organisme yang dibudidayakan mempunyai toleransi optimal. Kandungan salinitas air terdiri dari garam-garam mineral yang banyak manfaatnya untuk kehidupan organisme air laut atau payau. Sebagai contoh kandungan calcium yang ada berfungsi membantu proses mempercepat pengerasan kulit udang setelah moulting. Salinitas air media pemeliharaan yang tinggi (> 30 ppt) kurang begitu menguntungkan untuk kegiatan budidaya udang windu. Karena jenis udang windu akan lebih cocok untuk pertumbuhan optimal berkisar   antara 5-25 ppt.

Tingginya salinitas untuk kegiatan usaha budidaya udang windu akan mempunyai efek yang kurang menguntungkan, diantaranya : 1) agak sulit untuk ganti kulit (kulit cenderung keras) pada saat proses biologis bagi pertumbuhan dan perkembangan; 2) kebutuhan untuk beradaptasi terhadap salinitas tinggi bagi udang windu memerlukan energi (kalori) yang melebihi dari nutrisi yang diberikan; 3) bakteri atau vibrio cenderung tinggi; 4) udang windu lebih sensitif terhadap goncangan parameter kualitas air yang lainnya dan mudah stres; dan 5) umumnya udang windu sering mengalami lumutan. Selain itu, pada saat puncak musim kemarau jenis udang umumnya akan lebih mudah terserang oleh penyakit SEMBV (White spot).

Suhu air
Suhu pada air media pemeliharaan udang umumnya sangat berperan dalam keterkaitan dengan nafsu makan dan proses metabolisme udang. Apabila suatu lokasi tambak yang mikroklimatnya berfluktuatif, secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap air media pemeliharaan. Sebagai contoh pada musim kemarau yang puncaknya mulai bulan Juli hingga September sering terjadi adanya suhu udara dan air media pemeliharaan udang yang sangat rendah (< 24° C). Rendahnya suhu tersebut akibat dari pengaruh angin selatan (musim bediding), pada musim seperti ini biasanya suhu air berkisar antara 22 - 26° C. Suhu < 26° C bagi udang windu akan sangat berpengaruh terhadap nafsu makan (bisa berkurang 50 % dari kondisi normal). Sedangkan bagi jenis udang putih pada umumnya, nafsu makan masih normal pada suhu air antara 24- 31°C.

Tinqkat kekeruhan air

Tingkat kekeruhan air, baik air sumber maupun air media pemeliharaan mempunyai dampak yang positif dan negatif terhadap organisme yang dibudidayakan, dan setiap organisme mempunyai toleransi tingkat kekeruhan yang berbeda pula. Sebagai contoh bagi jenis kerang hijau masih dapat hidup normal dan tumbuh baik pada tingkat kekeruhan yang tinggi, sementara rumput laut pada umumnya memerlukan tingkat kekeruhan yang rendah. Bahan organik yang menumpuk dalam jumlah yang banyak (tebal) termasuk tempat bakteri dan vibrio yang merugikan bagi udang.

Bila air sumber yang digunakan untuk kegiatan budidaya banyak membawa material organik akibat limbah kiriman dari darat, maka secara tidak langsung akan berpengaruh negatif terhadap biota air yang dipelihara di tambak. Tingkat kekeruhan yang tinggi (limbah dari darat) sering terjadi pada musim penghujan, dimana material yang terbawa berupa cair, padat dan gas. Namun untuk mengendalikan air keruh akibat limbah bawaan tersebut masih dapat digunakan untuk kegiatan budidaya tambak, khususnya udang.

Jenis dan kemelimpahan plankton

Keberadaan plankton dalam air media pemeliharaan organisme, khususnya jenis fitoplankton yang menguntungkan dan persentase dominanasi (keseimbangan) sangatlah dibutuhkan, baik dari segi keanekaragaman maupun kemelimpahannya. Fungsi dan peran plankton pada air media pemeliharaan diantaranya adalah : 1) sebagai pakan alami untuk pertumbuhan organisme yang dipelihara; 2) sebagai penyangga (buffer) terhadap intensitas cahaya matahari; dan 3) sebagai bio-indikator kestabilan lingkungan air media pemeliharaan.

Kaitannya dengan kedua musim yang ada ini, keanekaragaman (jenis) maupun kemelimpahan plankton akan sangat berbeda antara musim kemarau dan musim penghujan. Pada musim kemarau yang salinitasnya relatif tinggi (>35 ppt) penumbuhan plankton pada saat persiapan air media hingga umur pemeliharaan satu bulan pada umumnya sangat sulit untuktumbuh dan dalam kondisi populasi yang stabil.

Kemelimpahan bakteri, vibrio dan virus

Kemelimpahan berbagai jenis baketri, vibrio dan virus pada musim kemarau akan lebih membahayakan bagi udang (organisme) yang dipelihara bila dibandingkan pada musim penghujan. Pada salinitas tinggi, penampakan secara visual di lapangan lebih sulit untuk dilihat dan diketahui secara pasti terserang oleh jenis virus atau bukan. Sedangkan pada musim penghujan (salinitas cukup optimalberkisar antara 5 - 25 ppt) kemelimpahan virus relatif berkurang. Hal yang pasti dari kasus ini adalah bahwa bukan tidak adanya virus yang berbahaya melainkan kondisi udang realtif lebih tahan terhadap serangan penyakit, namun tetap petambak harus waspada.

JADWAL MUSIM TANAM SESUAI KOMODITAS BUDIDAYA DI TAMBAK
Gambaran jadual musim tanam bagi para petambak tercantum pada Tabel 2

Tabel 2. Jadual musim tanam komoditas budidaya non finfish (NFF

Komoditas
BudidayaNFF

Bulan

10

11

12

1

2

3

4

5

6

7

8

9

U Windu

X

X

X

X

X

X

X

X

X

-

-

-

Merguiensis

X

X

-

-

-

X

X

X

X

X

X

X

Indicus

X

X

-

-

-

X

X

X

X

X

X

X

Vanamei

X

X

-

-

-

X

X

X

X

X

X

X

Rotris

X

X

-

-

-

X

X

X

X

X

X

X

Artemia

-

-

-

-

-

-

-

X

X

X

X

X

Rajungan

X

X

-

-

-

X

X

X

X

X

X

X

Rumput Laut

X

X

-

-

-

X

X

X

X

X

X

X

Kerang

X

X

-

-

-

X

X

X

X

X

X

X

Informasi Selanjutnya Hubungi:

http://www.dkp.go.id

Sabtu, 25 Desember 2010

PENGAWAS PERIKANAN BRONDONG LAMONGAN

Pengawasan Perikanan serta Operasional Pengawasan dan Pengendalian Sumberdaya Perikanan

Sumberdaya ikan bagian dari kekayaan alam sesuai “pasal 33 (3) UUD 1945” Jika dikelola dengan baik merupakan Sumber Ekonomi Potensial. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya “dikuasai” oleh “Negara” dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Apa makna/arti “dikuasai” oleh “Negara” ? Negara/Pemerintah mengatur pemanfaatannya (SDI) atau Penggunaannya.

Bagaimana arah pengaturan pemanfaatan SDI ? Agar pemanfaatan SDI untuk sebesar- besar “kemakmuran rakyat” dan Pemanfaatan yang berkelanjutan.

Perwujudan Pengaturan Pemerintah ? Yaitu dengan diterbitkannya Undang-Undang No. 9 Tahun 1985 yang diganti dengan Undang-Undang No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. (Sebagai UU Organik) dan Dengan Undang-Undang No. 31 Tahun 2004
Arah Ekonomi Potensial menjadi Ekonomi Riel.

Apa muatan UU No. 31 Thn 2004 ? Secara garis besar merupakan “Pengelolaan Perikanan” Perikanan adalah semua “kegiatan” yang berhubungan dengan Pengelolaan dan Pemanfaatan. Dimulai dari pra produksi, produksi, pengolahan dan pemasaran yang dilaksanakan dalam suatu “sistim bisnis” perikanan.

Pengelolaan” Perikanan adalah “semua upaya” termasuk proses yang terintegrasi dalam
(a). pengumpulan informasi, analisis dan perencanaan (b). konsultasi dan keputusan alokasi Sumberdaya Ikan (c). implementasi peraturan, perundang-undangan (d). Penegakan hukum. Dengan tujuan tercipta kelangsungan Produktivitas serta Kelestarian

Sumberdaya Ikan.

Berdasarkan pemahaman pengelolaan perikanan dapat diperoleh muatan sebagai berikut : (1). Ada pengumpulan data dan informasi yang dianalisis (2). Ada suatu perencanaan berdasarkan analisa data dan informasi. (3). Ada penetapan alokasi sumber berdasarkan data dan informasi. (4). Ada kebijakan sebagai suatu keputusan berdasarkan : (a). Data dan informasi (b). Perencanaan (c). Alokasi (d). Konsultasi (5). Ada pengaturan dan penetapan terhadap “pemanfaatan sumber” dan kelestarian lingkungannya (6). Ada pengawasan dan penegakan hukum (7). Ada pertimbangan “bisnis perikanan”

Dari pemahaman pengelolaan perikanan dapat diketahui bahwa pengawasan perikanban merupakan bagian dari pengelolaan perikanan atau lahirnya pengawasan perikanan bersumber dari dan ditujukan pada pengelolaan perikanan dalam UU No. 31 Tahun 2004

PENGAWASAN PERIKANAN

Pertanyaan (1). Mengapa diperlukan pengawasan perikanana? Atau yang menjadi tujuan ditetapkannya pengawasan perikanan? (2). Apa sebenarnya pengawasan itu dan apa saja kewenangannya? (3). Apa saja yang menjadi ruang lingkup itu atau apa saja yang diawasi?

Pengawasan bagian dari pengelolaan perikanan dan dalam pengelolaan perikanan ada fungsi pengaturan, khususnya pengaturan pemanfaatan SDI agar pengelolaan dan pemanfaatan sesuai dengan pasal 33 UUD ’45 maka untuk itu diperlukan pengawasan

Dengan demikian pengawasan dilakukan dengan tujuan agar “maksud dan tujuan” suatu pengaturan dapat dicapai. Jika demikian setiap pengaturan haruslah jelas maksud dan tujuannya, yaitu tertib, adil, objektif dan untuk kepentingan orang banyak

Berdasarkan pengertian perikanan, pengawasan dapat memberikanan makna 3 hal : (1). Pengawasan sebagai suatu “kegiatan” (2). Pengawasan sebagai suatu “pengendalian” (3). Pengawasan sebagai suatu “tindakan.

Pengawasan sebagai suatu “kegiatan” merupakan pengamatan dan pengumpulan data, fakta dan informasi tentang pelaksanaan peraturan perundang-undangan
ada analisa dan perencanaan dapat langsung dan tidak langsung.

Pengawasan sebagai suatu “pengendalian” merupakan pencegahan awal , dapat dengan proses perijinan, verifikasi/pemeriksaan, pengaturan larangan-larangan dan sosialisasi

Pengawasan sebagai suatu “tindakan” merupakan penanganan, pemberian sanksi atas pelanggaran dengan maksud menimbulkan efek jera /menciptakan kehendak menaati aturan.

TUGAS DAN KEWENANGAN PENGAWAS

Pasal 66 ayat (2) : Pengawas bertugas mengawasi tertib peraturan perundang-undangan di bidang perikanan. Makna dari tugas pengawasan menunjukkan :

  1. Obyek pengawasan : peraturan perundang-undangn di bidang perikanan (tidak boleh di luar perikanan)
  2. Dalam hal apa : ketaatan/kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan
  3. Yang dilakukan : kegiatan data dan informasi, pengendalian dan penindakan (hal ini wajib dilaksanakan pengawas)

Agar pengawas dapat melaksanakan tugasnya, maka harus diberi kewenangan untuk melakukan :

• Kegiatan pengumpulan data dan informasi

• Pengendalian

• Penindakan

Siapa pengawas itu? Pasal 66 (3) Pengawas terdiri : PPNS Perikanan dan PNS Perikanan non penyidik. PERMEN No. 03 tahun 2007 menegaskan pengawas harus diangkat oleh menteri atau pejabat yang ditunjuk Syarat untuk dapat diangkat atau ditunjuk harus PNS Perikanan.

Ruang Lingkup Pengawasan, Dilihat dari aspek tugas dibidang perikanan, maka ruang lingkup pengawasan seluruh peraturan perundang-undangan bidang perikanan antara llain :

  1. Pelaksanaan peraturan tentang penangkapan ikan
  2. Pelaksanaan peraturan tentang pembudidayaan ikan
  3. Pelaksanaan peraturan tentang pengolahan ikan
  4. Pelaksanaan peraturan tentang pengangkutan ikan
  5. Pelaksanaan peraturan tentang pemasaran ikan
  6. Pelaksanaan peraturan tentang penelitian ikan
  7. Dan lain-lain di bidang perikanan

Berdasarkan penjelasan pasal 66 (1), Pengawas Perikanan antara lain :

  1. Pengawas Penangkapan
  2. Pengawas Pembenihan
  3. Pengawas Budidaya
  4. PEngawas Hama dan Penyakit Ikan
  5. Pengawas Mutu
  6. Pengawas Lain-lain di Bidang Perikanan

Apa Saja Obyek Pengawasan ? a. Setiap “orang” yang mempunyai kegiatan di bidang

perikanan (subyek hukum) b. Setiap “benda” yang dipergunakan untuk melakukan

kegiatan di bidang perikanan.

Setiap orang adalah orang sebagai pribadi atau orang sebagai badan hukum Setiap benda adalah benda bergerak/tidak bergerak, benda berwujud/tidak berwujud

Dimana pengawasan dilakukan. Pengawasan dilakukan di tempat mana objek berada, antara lain :

  1. Laut, sungai, waduk dan rawa
  2. Lahan pembudidayaan ikan, tempat pembenihan ikan
  3. Unit pengolahan ikan
  4. Pelabuhan, bandar udara
  5. Di atas kapal
  6. Dll WPP RI

PELAKSANAAN PENGAWASAN

Berdasarkan FAO, pengawasan dilaksanakan dengan sistem monitoring (M), Controlling (C) dan Surveillance (S) yang dikenal dengan MCS

Monitoring (Pemantauan) Setiap pengawas wajib melakukan pengamatan/pemantauan, pengumpulan data, fakta dan infomasi untuk selanjutnya dianalisa dengan menggunakan perangkat teknis dan peraturan. Konsekuensinya : Setiap pengawas harus memahami teknis dan peraturan.

Manfaat Monitoring

  1. Sebagai bahan pertimbangan
  2. Sebagai dasar tindak lanjut
  3. Sebagai bahan perencanaan
  4. Sebagai bahan laporan
  5. Sebagai bahan memberikan usulan

Monitoring dapat dilakukan dengan alat atau tanpa alat, misalnya dengan VMS.

Controlling/Pengendalian Setiap pengawas wajib melakukan pengendalian sebelum terjadi pelanggaran.

Pengendalian dilakukan melalui :

• Pengaturan, pembuatan juknis, pemberitahuan/pengumuman

• Sosialisasi, penyuluhan

• Pembuatan perangkat pencegahan seperti SLO/HPK

• Pemeriksaan/Verifikasi dokumen

Pengendalian merupakan tindakan pencegahan dan sebagai hal utama dalam kegiatan pengawasan

Surveillance/Operasi Lapangan Pengawasan dalam bentuk operasional yang diikuti penindakan atau pengenaan sanksi pelanggaran. Surveillance dilakukan sebagai kegiatan pengawasan untuk meyakinkan adanya/ tingkat pelanggaran. Tindakan surveillance merupakan kegiatan terakhir yang membutuhkan biaya dan tenaga. Surveillance dapat menggunakan kapal pengawas atau kapal patroli

STRATEGI PENGAWASAN

Bermula di darat dan berakhir di darat, dilaksanakan dengan :

1. Preemptive : Pencegahan, offensif sebelum terjadi pelanggaran.

2. Persuasif : Pembinaan terhadap pelaku usaha /kegiatan perikanan untuk meningkatkan kesadaran/ketaatan hukum.

3. Responsif : Reaksi cepat melakukan penindakan dan penangana terhadap pelanggaran (penyidikan) .

Pengawasan mengutamakan pengendalian dalam bentuk Preemptive dan Persuasif, semakin tinggi kesadaran hukum dan ketaatan hukum maka penindakan/responsif akan menurun, sehingga terjadi penurunan biaya pengawasan. Penindakan/responsif merupakan upaya terakhir dalam pengawasan

SARPRAS PENGAWASAN

Dalam melakukan pengawasan diperlukan sarana dan prasarana pengawasan meliputi :

  1. Perangkat Peraturan
  2. Pengawas yang cakap dan terampil
  3. Alat penginderaan jarak jauh
  4. Alat penguji/laboratorium
  5. Kendaraan/Transportasi
  6. Kapal Pengawas
  7. Senjata
  8. dll.

KAPAL PENGAWAS

Kedudukan Kapal Pengawas berbeda dengan yang lain. Kapal Pengawas berfungsi melakukan pengawasan dan penegakan hukum. Kapal pengawas dapat menghentikan, memeriksa, membawa dan menahan kapal serta dilengkapi dengan senjata api. Jika demikian kapal pengawas sebagai subyek hukum/subyek pengawasan ?

Mengapa ?

1. Karena Kapal Negara dengan Tanda Khusus

2. Karena mewakili Negara

PENYIDIKAN, Siapa yang berwenang melakukan Penyidikan berdasarkan Pasal 73 (1) :

  1. PPNS Perikanan
  2. Perwira TNI-AL
  3. Pejabat POLRI

Kewenangan penyidikan terhadap apa ? Terhadap tindak pidana perikanan. Tindak Pidana Perikanan Dimana ? Apakah di semua Locus Delicti ? Misal : Tindak Pidana Perikanan di Sungai, atau Rawa, apakah penyidik TNI-AL berwenang? Jwb : UU No.31 tahun 2004 tidak menjelaskan

Kewenangan Lain Selain Penyidikan

UU No. 31 tahun 2004 tidak mengatur kewenangan TNI-AL dan POLRI selain penyidikan, jika demikian apa dasar POLRI melakukan pemeriksaan kapal di laut, di pelabuhan dan apa dasar POLRI memeriksa dokumen di darat dan di laut.

Demikian halnya dengan TNI-AL, UU No. 31 Tahun 2004 tidak mengatur kewenangan TNI-AL untuk memeriksa kapal perikanan di laut

Kewenangan Kapal Patroli

Kewenangan Kapal Patroli TNI-AL dan POLRI untuk melakukan pengawasan dan penegakan hukum perikanan di laut tidak diatur dalam UU No.31 Tahun 2004. UU No. 31 Tahun 2004 memberi kewenangan pengawasan dan penegakan hukum “hanya” kepada Kapal Pengawas Perikanan. Jika demikian halnya, kedudukan UU No. 31 tahun 2004 sebagai “Lex Specialist” tidak sepenuhnya dan tidak utuh.

Mencari Dasar Hukum Kewenangan

Selain UU No. 31 Tahun 2004 TNI-AL mendasari pada UU No. 5 Tahun 1983 dan UU TNI, jika hal ini benar tentu hanya di ZEEI saja. POLRI selain UU No. 31 tahun 2004 juga berdasar pada UU tentang Kepolisian RI, hal ini juga hanya di teritorial saja, selain sungai, waduk, rawa dan darat.

Rabu, 22 Desember 2010

Perikanan Budidaya

  • DJPB - Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya

    DJPB! - Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. ... Budidaya yang Sesuai dengan Potensi Perikanan di Jawa Tengah.

  • Perikanan - Budidaya Ikan Lele

    TTG BUDIDAYA PERIKANAN. BUDIDAYA IKAN LELE ( Clarias ). 1. SEJARAH SINGKAT Lele merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan tubuh memanjang dan kulit gelap.

  • Label Organik dalam Perikanan Budidaya

    Label organik dalam perikanan budidaya diperlukan karena banyaknya kegiatan yang bersifat unsustainable aquaculture, baik dari segi ekonomi dan geologi.

  • fishblogs

    Perikanan budidaya di Jawa Tengah saat ini didominasi oleh usaha skala besar Oleh karena itu, pemanfaaatan sumberdaya perikanan budidaya yang sangat besar dan belum di manfaatkan secara optimal.

  • Budidaya Perikanan - Sentra Informasi IPTEK

    TTG - BUDIDAYA PERIKANAN. Edisi 2 - Maret 2001. A. IKAN AIR TAWAR Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian. Dinas Perikanan Propinsi DIY.

  • REPUBLIK INDONESIA - Daerah Di Minta Tingkatkan Perikanan Budidaya

    Demikian di sampaikan oleh Menteri Perikanan dan Kelautan RI Fadel Muhammad saat membuka Forum Akselerasi Pembangunan Perikanan Budidaya.

  • Perikanan Budidaya Meningkatkan Produksi 20% « kliping dunia ikan

    Perikanan budidaya kelak harus mampu meningkatkan konstribusinya secara nyata terhadap sektor perikanan secara keseluruhan.

  • ANTARA News: Cuaca Buruk Sulitkan Perikanan Budidaya

    Cuaca buruk memiliki dampak pada sektor perikanan di wilayah Indonesia, terutama pada sejumlah perikanan budidaya yang memerlukan kualitas air yang baik.

  • Perikanan Budidaya Lepas Pantai Belum Akan Dikembangkan

    Kementerian Kelautan hingga saat ini belum akan mengembangkan perikanan budidaya lepas pantai (offshore), sebaliknya semakin mengintensifkan perikanan budidaya air payau dan air tawar.

  • Pusat Riset Perikanan Budidaya

  • Tahun 2002 merupakan titik awal dari perkembangan riset di bidang perikanan budidaya, sejalan dengan adanya pemekaran Puslitbang Eksplorasi Laut dan pantai.

  • Berita untuk perikanan budidaya
  • Selain udang, target perikanan tercapai
    1 hari yang lalu

    Produksi itu disumbang oleh produksi perikanan tangkap seberat 4,27 juta ton dan seberat 4,28 juta ton dari perikanan budidaya. Direktur Jenderal Perikanan.

  • Selasa, 21 Desember 2010

    Budidaya tambak udang windu organic Perikanan Tuban

    image Persiapan tambak

    1. Pengeringan tambak.
    2. Ukur pH tanah dasar, usahakan pH 7 bila kurang lakukan penebaran kapur sesuai dosis anjuran.
    3. Tebar kompos 10 - 100 gr / m2 tergantung kesuburan lahan.
    4. kendalikan keong dengan basmi keong ( molusikida organic ).
    5. isi air tambak minimal 50 cm ( di pelataran ).
    6. Tebar SOZOFM – 2 dosis 10 botol , lalu diamkan 2 minggu.
    7. lakukan penanggulangan hewan pesaing di hari ke 12, dengan memakai saponen sesuai dosis anjuran.
    8. lakukan penebaran SOZOFM – 2 dosis 5 botol / ha, isi kolam sampai penuh.
    9. hari ke 14 benur sudah siap ditebar.
    10. Lakukan control air kolam minimal 2 kali seminggu pH dan temperature agar kualitas air dapat terpantau baik.
    11. pengulangan penebaran SOZOFM – 2 setiap 2 minggu sekali sebanyak 5 botol / ha.

    Yang perlu diperhatikan saat budidaya adalah kualitas air, dimana penurunan kualitas air biasanya di sebabkan beberapa factor, seperti :

      • Pembusukan sisa limbah organic dari kotoran udang.
      • Pembusukan klekap.
      • Pembusukan sisa kulit udang hasil dari moulting ( ganti kulit ).
      • Air terlalu dangkal, sehingga suhu air terlalu tinggi disiang hari dan terlalu dingin dimalam hari, menyebabkan udang stress.

    Peranan SOZOFM – 2 pada budidaya udang windu organic :

    1. Pembusukan sisa limbah kotoran udang, klekap, dan pembusukan sisa kulit udang dapat diatasi karena SOZOFM – 2 mengandung lactobacillus 106, yang mampu mengurai bahan- bahan tersebut menjadi mineral volume kecil, yang akan diserap oleh Plankton, phytoplankton akan menghasilkan oxygen saat berphotosintesa disiang hari sehingga kandungan oxygen terlarut akan meningkat, Zooplankton akan menjadi pakan alami udang dengan sangat melimpah.
    2. Meningkatkan metabolisme pencernaan udang sehingga pakan alami yang dikonsumsi akan terserap secara optimal, sehingga sisa limbah berupa faeces tidak mengandung protein lagi, sehingga aman bagi lingkungan perairan, sehingga kualitas air tetap baik.
    3. Kandungan asam amino ,asam lemak organic mampu meningkatkan daya tahan tubuh udang dari stress terhadap tekanan lingkungan yang kurang bagus, sehingga pertumbuhannya tetap baik.
    4. Meningkatkan citarasa daging udang dan daya tahan simpan pasca panen.

    Senin, 22 November 2010

    Budidaya Ikan Cupang Peluang Usaha Baru

      ikan cupang_perikanan unirowBudidaya Ikan Cupang

    Peluang usaha baru dalam dunia budidaya air tawar yaitu budidaya ikan cupang yang sangat menjanjikan Untuk membudiayakan atau mengembangkan ikan cupang hias tidaklah memerlukan lahan yang luas, cukup menyediakan areal sekitar 5 meter persegi. Di Wilayah Jakarta Pusat budidaya ikan cupang ada yang dilakukan diatas dak rumah dan dipekarangan yang relatif sempit, dengan menggunakan wadah bekas ataupun kolam bak semen atau akuarium. Ikan ini relatif mudah dipelihara dan dibudidayakan, karena tidak memerlukan pakan khusus. Pakan ikan untuk benih biasanya digunakan pakan alami berupa kutu air atau daphnia sp. yang dapat ditemukan di selokan yang airnya tergenang. Untuk induk cupang digunakan pakan dari jentik-jentik nyamuk (cuk). Untuk pertumbuhan anak ikan bisa diberi kutu air dan diselingi dengan cacing rambut, akan lebih mempercepat pertumbuhan anak ikan.

    Wadah Budidaya

    Pada umumnya wadah pemeliharaannya adalah bak semen atau akuarium yang ukurannya tidak perlu besar yaitu cukup 1 x 2 m atau akuarium 100 x 40 x 50 cm, sedang wadah perkawinannya lebih kecil dari wadah pembesaran, yang bisa digunakan antara lain : baskom, akuarium kecil atau ember dapat dipakai untuk memijahkan ikan.

    Ciri-ciri khusus

    Ciri-ciri khas yang dimiliki oleh ikan cupang hias jantan adalah selain warnanya yang indah, siripnya pun panjang dan menyerupai sisir serit, sehingga sering disebut cupang serit. Sedangkan ikan betina warnanya tidak menarik (kusam) dan bentuk siripnya lebih pendek dari ikan jantan.
    Ciri ikan jantan untuk dipijahkan :

    Umur ± 4 bulan
    Bentuk badan dan siripnya panjang dan berwarna indah.
    Gerakannya agresif dan lincah.
    Kondisi badan sehat (tidak terjangkit penyakit).

    Ciri-ciri ikan betina :

    Umur telah mencapai +- 4 bulan
    Bentuk badan membulat menandakan siap kawin.
    Gerakannya lambat.
    Sirip pendek dan warnanya tidak menarik.
    kondisi badan sehat.

    Pemijahan dan perawatan ikan

    Setelah induk cupang hias dipersiapkan begitu pula dengan wadahnya maka langkah selanjutnya adalah melakukan pemijahan :

    1. Persiapkan wadah baskom/akuarium kecil dan bersih.
    2. Isi wadah dengan air bersih dengan ketinggian 15 - 30 Cm.
    3. Masukkan induk ikan cupang jantan lebih dahulu selama 1 hari.
    4. Tutup wadah dengan penutup wadah apa saja.
    5. Sehari kemudian (sore hari) induk betina telah matang telur dimasukan ke dalam wadah pemijahan.
    6. Biasanya pada pagi harinya ikan sudah bertelur dan menempel disarang berupa busa yang dipersiapkan oleh induk jantan.
    7. Induk betina segera dipindahkan dan jantannya dibiarkan untuk merawat telur sampai menetas.

    Pembesaran anak

    1. Ketika burayak ikan cupang sudah dapat brenang dan sudah habis kuning telurnya, sudah harus disiapkan media yang lebih besar untuk tempat pembesaran.
    2. Pindahkan anakan bersama induk jantannya.
    3. Kemudian benih ikan diberi makanan kutu air dan wadah ditutup.
    4. Sepuluh hari kemudian anak ikan dipindahkan ke tempat lain.
    5. Dan selanjutnya setiap satu minggu, ikan dipindahkan ke tempat lain untuk lebih cepat tumbuh.

    Pasca Panen

    Pasca panen yaitu setelah ikan cupang hias mencapai 1 bulan sudah dapat dilakukan pemanenan sekaligus dapat diseleksi atau dipilih. Ikan yang berkwalitas baik dan cupang hasil seleksi dipisahkan dengan ditempatkan ke dalam botol-botol tersendiri agar dapat berkembang dengan baik serta menghindari perkelahian. Setelah usia 1,5 sampai 2 bulan cupang hias mulai terlihat keindahannya dan dapat dipasarkan.

    POSDAYA MINAMAKMUR PEMBUATAN PAKAN IKAN SENDIRI

     

    KKN PENIDON Bahan-Bahan Untuk Pakan Buatan

    A. Bahan Hewani

    1. Tepung Ikan
    Bahan baku tepung ikan adalah jenis ikan rucah (tidak bernilai ekonomis) yang berkadar lemak rendah dan sisa-sisa hasil pengolahan. Ikan difermentasikan menjadi bekasem untuk meningkatkan bau khas yang dapat merangsang nafsu makan ikan. Lama penyimpanan < 11-12 bulan, bila lebih dapat ditumbuhi cendawan atau bakteri, serta dapat menurunkan kandungan lisin yang merupakan asam amino essensial yang paling essensial sampai 8%. Kandungan gizi: protein=22,65%; lemak=15,38%; Abu=26,65%; Serat=1,80%; Air=10,72%; Nilai ubah=1,5–3.
    Cara pembuatannya:

    a) Ikan direbus sampai masak, diwadahi karung, lalu diperas.

    b) Air perasan ditampung untuk dibuat petis/diambil minyaknya.

    c) Ampasnya dikeringkan dan digiling menjadi tepung.

    2. Tepung Rebon dan Benawa
    Rebon adalah sejenis udang kecil yang merupakan bahan baku pembuatan terasi. Benawa adalah anak kepiting laut. Rebon dan Benawa muncul pada awal musim hujan di sekitar muara sungai, mengerumuni benda yang terapung.
    Cara pembuatan:

    a) Bahan direbus sampai masak, diwadahi karung, lalu diperas;

    b) Ampasnya dikeringkan dan digiling menjadi tepung.

    Kandungan gizi: Protein: Udang rebon=59,4% (udang rebon), 23,38% (benawa); Lemak =3,6% (Udang rebon), 25,33% (Benawa); Karbohidrat 3,2% (Udang rebon), 0,06% (benawa); Abu=11,41% (Benawa); Serat=11,82% (Benawa); Air=21,6% (Udang rebon); 5,43% Benawa ,Nilai ubah: Benawa=4–6

    3. Tepung Kepala Udang

    Bahan yang digunakan adalah kepala udang, limbah pada proses pengolahan udang untuk ekspor. Cara pembuatannya:

    a) Bahan direbus, dijemur sampai kering dan digiling;

    b) Tepung diayak untuk membuang bagian-bagian yang kasar dan banyak mengandung kitin.

    Kandungan gizinya: Protein= 53,74%; Lemak= 6,65%; Karbohidrat= 0%; Abu= 7,72%; Serat kasar= 14,61%; Air= 17,28%.

    4. Tepung Anak Ayam

    Bahan: anak ayam jantan dari perusahaan pembibitan ayam petelur. Cara pembuatan:

    a) Anak-anak ayam dimatikan secara masal, bulu-bulunya dibakar dengan lampu semprot. Kemudian direbus sampai kaku (setengah masak).

    b) Diangin-anginkan sampai kering dan digiling beberapa kali sampai halus. Hasil gilingan yang masih basah disebut pastadan dapat langsung digunakan.

    c) Pasta dapat dikeringkan dan digiling menjadi tepung.

    Kandungan gizinya: Protein=61,65%, Lemak=27,30%, Abu=2,34%, Air=8,80%, Nilai ubah=5–8. Juga mengandung hormon, enzim, vitamin, dan mineral yang dapat merangsang nafsu makan dan pertumbuhan.

    5. Tepung Kepompong Ulat Sutra

    Bahan: kepompong ulat sutra yang merupakan limbah industri pemintalan benang sutra alam. Kandungan gizinya: Protein= 46,74%, Lemak= 29,75%, Abu= 4,86%, Serat= 8,89%, Air= 9,76%, Nilai ubah= 1,8.

    6. Ampas Minyak Hati Ikan

    Bahan: amapas hati ikan yang telah diperas minyaknya. Cara pembuatannya:

    a) digunakan sebagai pasta, karena kandungan lemaknya tinggi, sehingga sukar dikeringkan.

    b) Digiling halus sampai bentuknya seperti pellet.

    Kandungan gizinya: Protein= 25,08%, lemak= 56,75%, Abu= 6,60%, Air=12,06%, Nilai ubah= 8.

    7. Tepung Darah

    Bahan: darah, limbah dari rumah pemotongan ternak. Cara pembuatannya:

    a) darah beku yang masih mentah dimasak dan dikeringkan

    b) kemudian digiling menjadi tepung.

    Kandungan gizinya: Protein= 71,45%, Lemak= 0,42%,Karbohidrat= 13,12%, Abu= 5,45%, Serat= 7,95%, Air= 5,19. Proteinnya sukar dicerna, sehingga penggunaannya untuk ikan < 3% dan untuk udang < 5%.

    8. Silase Ikan

    Bahan: ikan rucah dan limbah pengolahan.

    Silase adalah hasil olahan cair dari bahan baku asal ikan/limbahnya.

    Cara pembuatan:

    a) Bahan dicuci, dicincang kecil-kecil, kemudian digiling. Hasil gilingan direndam dalam larutan asam formiat 3% 24 jan, kemudian diperas.

    b) Air perasan ditampung dan lapisan minyak yang mengapung di lapisan atas disingkirkan.

    c) Cairan yang bebas minyak dicampur dengan ampas dan ditambah asam propionat 1%, untuk mencegah tumbuhnya bakteri / cendawan dan menambah daya awet ± 3 bulan dengan pH ± 4,5.

    d) Bahan diperam selama 4 hari dan diaduk 3- 4 kali sehari.

    e) Bahan cair yang bersifat asam dapat dicampur dengan dedak, ketela pohon/tepung jagung dengan perbandingan 1:1, dikeringkan dan digunakan untuk campuran dalam ramuan makanan.

    Kandungan gizinya: Protein=18-20%, Lemak=1-2%, Abu=4-6%, Air=70- 75%, Kapur=1-3%, Fosfor=0,3-0,9%.

    9. Arang Bulu Ayam dan Tepung Tulang

    Bahan: arang bulu ayam, tulang ternak.

    Cara pembuatan: Tulang dipotong sepanjang 5-10 cm, direbus selama 2-4 jam dengan suhu 100 ° C, kemudian dihancurkan hingga menjadi serpihan-serpihan sepanjang 1-3 cm. Serpihan tulang direndam dalam air kapur 10% selama 4-5 minggu dan dicuci dengan air tawar. Pemisahan selatin dengan jalan pemanasan 3 tahap, yaitu pada suhu 60 ° C selama 4 jam, suhu 70 ° C selama 4 jam, dan 100 ° C selama 5 jam. Pemrosesan selatin. Tulang dikeringkan pada suhu 100 ° C, sampai kadar airnya tinggal 5% dan digiling hingga menjadi tepung. Pengemasan dan penyimpanan.

    Kandungan gizinya: Protein=25,54%, Lemak=3,80%, Abu=61,60%, Serat=1,80%, Air=5,52%.

    10. Tepung Bekicot

    Bahan: daging bekicot mentah dan daging bekicot rebus.

    Cara pembuatan: Daging bekicot dikeringkan lalu digiling. Untuk campuran makanan sebesar 5-15%.

    Kandungan gizi: Protein=54,29%, Lemak=4,18%, Karbohidrat=30,45%, Abu=4,07%, Kapur=8,3%, Fosfor=20,3%, Air=7,01.

    11. Tepung Cacing Tanah

    Dapat menggantikan tepung ikan, dapat diternak secara masal. Jumlah penggunaan dalam ramuan 10-25%. Cara pembuatan: Cacing dikeringkan lalu digiling. Kandungan proteinnya 72% dan mudah diserap dinding usus.

    12. Tepung Artemia

    Dapat menggantikan tepung ikan/kepala udang.

    Kandungan protein (asam amino essensial) untuk burayak 42% dan dewasa 60%, sedangkan asam lemak tak jenuh untuk burayak 20% dan dewasa 10%. Daya cernanya tinggi.

    13. Telur Ayam dan Itik

    Bahan: telur mentah atau telur rbus. Penggunaan: Telur mentah langsung dikopyok dan dicampur dengan bahan lain. Telur rebus, diambil kuningnya, dihaluskan dan dilarutkan sampai membentuk emulsi atau suspensi. Kandungan gizinya: Protein=12,8%, Lemak=11,5%, Karbohidrat=0,7%, Air=74%.

    14. Susu

    Bahan: tepung susu tak berlemak (skim). Kandungan gizi: Protein=35,6% Lemak=1,0% Karbohidrat=52,0%, Air=3,5%

    B. Bahan Nabati

    1. Dedak
    Bahan dedak padi ada 2, yaitu dedak halus (katul) dan dedak kasar. Dedak yang paling baik adalah dedak halus yang didapat dari proses penyosohan beras, dengan kandungan gizi: Protein=11,35%, Lemak=12,15%, Karbohidrat=28,62%, Abu=10,5%, Serat kasar=24,46%, Air=10,15%, Nilai ubah= 8.

    2. Dedak Gandum
    Bahan: hasil samping perusahaan tepung terigu. Tepung yang paling baik untuk pakan ikan adalah “wheat pollard” dengan kandungan gizi: Protein=11,99%, Lemak=1,48%, Karbohidrat=64,75%, Abu=0,64%, Serat kasar=3,75%, Air=17,35%, Nilai ubah=2-3.

    3. Jagung
    Terdapat 2 jenis, yaitu: (1) Jagung kuning, mengandung protein dan energi tinggi, daya lekatnya rendah; (2) Jagung putih, mengandung protein dan enrgi rendah, daya lekatnya tinggi. Sukar dicerna ikan, sehingga jarang digunakan.

    4. Cantel/Sorgum
    Berwarna merah, putih, kecoklatan. Warna putih lebih banyak digunakan. Mempunyai zat tanin yang dapat menghambat pertumbuhan, sehingga harus ditambah metionin/penyosohan yang lebih baik. Kandungan gizi: Protein=13,0%, Lemak=2,05%, Karbohidrat=47,85%, Abu=12,6%, Serat kasar= 13,5%, Air=10,64%, Nilai ubah2-5.

    5. Tepung Terigu
    Berasal dari biji gandum, berfungsi sebagai bahan perekat dengan kandungan gizi: Protein=8,9%; Lemak=1,3%; Karbohidrat=77,3%; Abu=0,06%; Air=13,25%.

    6. Tepung Kedele
    Keuntungan: mengandung lisin asam amino essensial yang paling essensial dan aroma makanan lebih sedap, penggunaannya ± 10%. Kekurangan: mengandung zat yang dapat menghambat enzim tripsin, dapat dikendalikan dengan cara memasak. Kandungan gizi: Protein: 39,6%, Lemak=14,3%, Karbohidrat=29,5%, Abu=5,4%, Serat=2,8%, Air=8,4%, Nilai ubah=3-5.

    7. Tepung Ampas Tahu
    Kandungan gizinya: Protein=23,55%, Lemak=5,54%, Karbohidrat=26,92%, Abu=17,03%, Serat kasar=16,53%, Air=10,43%.

    8. Tepung Bungkil Kacang Tanah
    Bungkil kacang tanah adalah ampas pembuatan minyak kacang. Kelemahannya: dapat menyebabkan penyakit kurang vitamin, dengan gejala sirip tidak normal dan dapat dicegah dengan membatasi penggunaannya. Kandungan gizi: Protein=47,9%, Lemak=10,9%, Karbohidrat =25,0%, Abu=4,8%, Serat kasar=3,6%, Air=7,8%, Nilai ubah=2,7-4.

    9. Bungkil Kelapa
    Bungkil kelapa adalah ampas dari proses pembuatan minyak kelapa. Sebagai bahan ramuan dapat dipakai sampai 20%. Kandungan gizi: Protein=17,09%, Lemak=9,44%, Karbohidrat=23,77%, Abu=5,92%, Serat kasar=30,4%, Air=13,35%.

    10. Biji Kapuk/Randu
    Bahan: bungkil kapuk yang telah diambil minyaknya. Kelemahannya: Mengandung zat siklo-propenoid yang bersifat racun bius. Penggunaannya < 5%. Kandungan gizinya: Protein=27,4%, Lemak=5,6%, Karbohidrat=18,6%, Abu=7,3%, Serat kasa=25,3%, Air=6,1 %.

    11. Biji Kapas
    Bahan: bungkil dari pembuatan minyak. Kelemahannya: mengandung zat gosipol yang bersifat sebagai racun, yaitu merusak hati dan perdarahan/pembengkakan jaringan tubuh. Untuk penggunaannya harus dimasak dulu. Kandungan gizi: Protein=19,4%, Lemak=19,5%, Asam lemak linoleat=47,8%, Asam lemak palmitat=23,4%, Asam lemak oleat=22,9%.

    12. Tepung Daun Turi
    Kelemahannya: mengandung senyawa beracun : asam biru (HCN), lusein, dan alkoloid-alkoloid lainnya. Kandungan gizinya: Protein=27,54%, Lemak=4,73%, Karbohidrat=21,30%, Abu=20,45%, Serat kasar=14,01%, Air=11,97 %.

    13. Tepung Daun Lamtoro
    Kelemahannya: mengandung mimosin, dalam pemakaiannya < 5% saja. Kandungan gizinya: Protein=36,82%, Lemak=5,4%, Karbohidrat=16,08%, Abu=1,31%, Serat kasar=18,14%, Air=8,8%.

    14. Tepung Daun Ketela Pohon
    Kelemahannya: racun HCN/asam biru. Kandungan gizi: Protein=34,21%, Lemak=4,6%, Karbohidrat=14,69%, Air=0,12.

    15. Isi Perut Besar Hewan Memamah biak
    Bahan: dari rumah pemotongan ternak. Cara pembuatan: dikeringkan, digiling sampai menjadi tepung. Kandungan gizinya: Protein=8,39%, Lemak=5,54%, Karbohidrat=33,51%, Abu=17,32%, Serat kasar=20,34%, Air=14,9%, Nilai ubah=2.

    C. Bahan Tambahan

    1. Vitamin dan Mineral

    Cara memperoleh: dari toko penjual makanan ayam (poultry shop) yang sudah dikemas dalam bentuk premiks (premix).

    Premix tersebut mengandung vitamin, mineral, dan asam-asam amino tertentu.

    Contoh-contoh merek dagang:

    § Top mix: mengandung 12 macam vitamin (A, D, E, K, B kompleks), 2 asam amino essensial (metionin dan lisin) dan 6 mineral (Mn, Fe, J, Zn, Co dan Cu), serta antioksidan (BHT)

    § Rhodiamix: mengandung 12 macam vitamin (A, D, E, K, B kompleks), asam amino essensia metionin, dan 8 mineral (Mg, Fe, Mo, Ca, J, Zn, Co dan Cu), serta antioksidan.

    § Mineral B12: mengandung tepung tulang, CaCO3, FeSO4, MnSO4, KI, CuSO4, dan ZnCO3, serta vitamin B12 (sianokobalamin).

    § Merek lain: Aquamix, Rajamix U, Pfizer Premix A, Pfizer Premix B.

    Penggunaannya : Untuk ikan 1-2% dan untuk udang 10-15%.

    2. Garam Dapur (NaCl)

    Fungsi: sebagai bahan pelezat (gurih), mencegah terjadinya proses pencucian zat-zat lain yang terdapat dalam ramuan makanan ikan. Penggunaannya cukup 2%.

    3. Bahan Perekat

    Contoh bahan perekat: agar-agar, gelatin, tepung terigu, tepung sagu, dll. Yang paling baik adalah tepung kanji dan tapioka. Penggunaannya cukup 10%.

    4. Antioksidan

    Bahan: fenol, vitamin E, vitamin C, etoksikulin (1,2dihydro-6-etoksi-2,2,4 trimethyquinoline), BHT (butylated hydroxytoluena), dan BHA (butylated hydroxyanisole).

    Penggunaannya: etoksikulin 150 ppm, BHT dan BHA 200 ppm.

    5. Ragi dan Ampas Bir

    Ragi adalah sejenis cendawan yang dapat merubah karbohidrat menjadi alkohol dan CO2.

    Macam ragi: ragi tape, ragi roti, dan bir.

    Kandungan gizi: Protein=59,2%, Lemak=0, Karbohidrat=38,93%, Abu=4,95%, Serat kasar=0, Air=6,12%.

    Ampas bir merupakan limbah pengolahan bir.

    Kandungan gizinya: Protein=25,9%, Serat kasar=15%

    Penggunaannya: ampas bir basah 3-6% dan kering 10%.

    Kamis, 28 Oktober 2010

    Peningkatan Potensi Tuna

    Optimalkan Potensi Tuna, Dinas Kelautan dan Perikanan Sumatera Barat Rangkul Dunia Pendidikan

         Meski telah ditetapkan sebagai sentra Perikanan tuna nasional, potensi produksi perikanan tuna yang dimiliki Provinsi Sumatera Barat saat ini masih belum dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat kelautan dan perikanan setempat. Dalam Seminar Nasional Pembangunan Kelautan di Universitas Andalas (Unand) Padang (6/10), Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Barat, Yosmeri menyatakan kendala yang dihadapi saat ini adalah minimnya sumberdaya manusia serta teknologi dibidang kelautan dan perikanan yang dapat diterapkan secara mudah oleh para pemangku kepentingan. “Saat ini kebutuhan akan SDM dan peningkatan alih teknologi kelautan di Sumatera Barat sudah sangat mendesak sehingga dibutuhkan adanya terobosan-terobosan untuk memenuhi kebutuhan tersebut”, demikian diungkapkan Yosmeri. Melihat permasalahan tersebut, maka DKP Sumbar terus melakukan pendekatan kepada dunia pendidikan tinggi di Sumatera Barat untuk mengatasi keterbatasan yang dihadapi.

         Atas upaya yang dilakukan oleh DKP Sumbar, maka Universitas Andalas Sebagai penyedia SDM yang berkualitas di Sumatera Barat, berencana untuk membuka program studi baru di bidang teknologi kelautan dengan menggandeng Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) yang telah jauh lebih dulu memiliki program studi serupa. Pembantu Rektor IV Unand, Prof. Helmi menyatakan dengan potensi yang demikian melimpah, sangat disayangkan apabila Sumbar tidak memiliki pendidikan formal yang memadai sebagai tempat lahirnya SDM yang handal serta penyediaan alih teknologi yang mudah diterapkan.

    Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Ekonomi, Sosial,  dan Budaya, Suseno saat menjadi keynote speaker memberikan apresiasi yang besar terhadap upaya yang telah dilakukan oleh pihak Pemeritah Provinsi Sumbar serta Unand dan ITS dalam mendukung Visi dan Misi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). “Kerjasama yang telah dilakukan oleh Unand dan ITS dalam menjawab kebutuhan yang dilontarkan oleh DKP Sumbar merupakan salah satu dari 4 Pilar Grand Strategy yang dimiliki oleh KKP yakni memperkuat kelembagaan dan SDM secara terintegrasi”, ujar Suseno. Berdasarkan data statistik, produksi Perikanan tuna yang dimiliki oleh Sumatera Barat sejak tahun 2008 menunjukan peningkatan yang sangat signifikan. Tahun 2008 provinsi ini membukukan produksi sebanyak 300 ton yang kemudian meningkat lebih dua kali lipat pada tahun 2009 yakni menjadi 735 ton. Hingga September tahun ini, produksi tuna di Sumbar telah mencapai lebih dari 600 ton dan diproyeksikan mencapai 1000 ton pada akhir tahun 2010 ini. (EAH)

    Senin, 25 Oktober 2010

    Bantuan dari KKP

    perikanan unirow Tag: , , ,

    Modal Wirausaha Pemula Disalurkan

    perikanan unirowPenyaluran paket perikanan budidaya bagi wirausaha pemula tahun 2010 digulirkan mulai pekan ini. Stimulus bagi wirausaha budidaya pemula itu mencakup bantuan benih, pakan, dan pembuatan kolam.
    Sekretaris Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Syamsuddin mengemukakan hal itu di Jakarta, Selasa (12/10).
    Besar fasilitas modal usaha itu bervariasi, mulai dari Rp 6 juta hingga Rp 17,5 juta per paket Komoditas perikanan yang dikembangkan antara lain rumput laut, ikan lele, patin, bandeng, mas, nila, dan polikultur udang.
    Tahun 2010, paket budidaya ditujukan bagi 273 kabupaten/ kota pada 33 provinsi. Total anggaran yang digulirkan pemerintah untuk paket perikanan budidaya bagi wirausaha pemula sebesar Rp 184,4 miliar. Total ada 2.410 paket. Paket-paket budidaya itu di antaranya budidaya ikan patin di kolam Rp 7,5 juta per paket, gurami Rp 7,5 juta per paket, serta rumput laut dan nila masing-masing Rp 6 juta per paket.

    Selain itu, ada juga keramba jaring apung ikan patin Rp 17,5 juta per pake

    t Paket dapat diberikan kepada perseorangan ataupun kelompok. "Bantuan ini diutamakan bagi sarjana Tetapi, tidak tertutup kemungkinan untuk nonsarjana jika di daerah itu jumlah sarjana yang berminat masih sedikit," ujarnya.
    Penyaluran paket budidaya diserahkan sepenuhnya kepada daerah. Oleh karena itu, daerah diharapkan menyiapkan rencana definitif kebutuhan kelompok serta menentukan kelompok pembudidaya, lokasi budidaya, ataupun tender untuk pengadaan sarana produksi.Saat ditanya soal pengawasan, Syamsuddin mengatakan, pihaknya telah membentuk tim terpadu monitoring dan evaluasi kelautan dan perikanan yang melibatkan semua direktorat jenderal di KKP.
    Secara terpisah, Dekan Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor Arif Satria mengemukakan, paket perikanan budidaya bagi sarjana selayaknya diperuntukkan bagi sarjana yang memiliki kemauan dan kemampuan budidaya.Tanpa bekal kemampuan, dikhawatirkan program itu berpotensi gagal," ujar Arif. Program wirausaha budidaya, kata Arif, seharusnya dimanfaatkan oleh perguruan tinggi sebagai peluang mencetak wirausaha baru.
    Di sisi lain, diperlukan upaya melibatkan perusahaan swasta untuk akses pemasaran produk perikanan budidaya tersebut agar bisa mendapatkan jaminan pasar. (LKT)

    Kamis, 07 Oktober 2010

    USAHA KKN POS DAYA MINAMAKMUR


    Tambak Percontohan Budidaya Perikanan Polikultur Udang Vanamei dan Ikan Bandeng


         Usaha pembuatan tambak percontohan budidaya polikultur udang vanamei dan ikan bandeng di lakukan oleh kelompok KKN posdaya minamakmur desa penidon kecamatan plumpang untuk memberikan pengetahuan baru kepada masyarakat karena selama ini pemanfaatan lahan tambak di desa penidon hanya untuk usaha budidaya ikan bandeng. padahal dengan budidaya polikultur akan bisa meningkatkan pendapatan masyarakat.

      

    Minggu, 01 Agustus 2010

    Pelatihan budidaya keramba jaring apung

    Pelatihan budidaya keramba jaring apung

    I. Judul Program : Pelatihan Pemanfaatan Bekas Galian Tambang

    PT. Semen Gresik Untuk Budidaya Ikan Nila

    (Oreochromis sp) Dengan Teknologi Karamba

    Jaring Apung (KJA) Guna Peningkatan

    Kesejahteraan Masyarakat Sekitar.

    II. Latar Belakang Masalah

    Berdirinya kawasan industri di Kabupaten Tuban terutama di pedesaan. Telah mengubah kawasan tandus menjadi kawasan penghasil dolar yang tidak sedikit sumbangsihnya terhadap Negara dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) kab.Tuban salah satunya adalah PT. Semen Gresik Tbk. Pabrik tersebut mengolah bahan mentah yang diperoleh dari hasil penambangan untuk dijadikan Semen. Salah satu bahan mentah yang digunakan sebagai campuran pembuatan semen adalah tanah yang diperoleh dari hasil penggalian dari dua desa sekitar yaitu desa temandang dan desa pongpongan. Penggalian tanah tersebut menyisakan cekungan-cekungan dan kemudian keluar sumber air sehingga membentuk danau-danau buatan.

    Bekas galian tersebut sebagian dimanfaatkan pabrik untuk proses produksi. Tapi sebagian besar sudah tidak diperlukan lagi. Maka pihak semen Gresik memberikan izin pada pihak-pihak yang ingin memanfaatkannya terutama penduduk sekitar bekas galian tersebut. Kebanyakan penduduk memanfaatkanya hanya untuk mengairi sawah mereka. Sedangkan kondisi bekas galian tambang tersebut cocok untuk dijadikan media budidaya pembesaran ikan, yang barang tentu akan mengakibatkan keuntungan yang lebih besar, dalam hal ini adalah pembesaran ikan menggunakan teknologi keramba jaring apung.

    Budidaya pembesaran ikan dengan keramba jarring apung (KJA) telah lama dikenal oleh masyarakat kita, terutama di daerah yang terdapat waduk atau danau yang dalam. Cara budidaya menggunakan keramba jaring apung memiliki kelebihan-kelebihan, diantaranya sirkulasi air di dalam keramba selalu terjadi sehingga tidak diperlukan penggantian air, karena sudah terjadi secara otomatis. Pakan yang tidak termakan oleh ikan peliharaan dan kotoran sisa metabolisme ikan akan terbawa keluar sehingga akan menambah kesuburan perairan.

    Banyak jenis ikan yang dapat di besarkan di keramba jaring apung, tetapi yang paling ngetren sekarang adalah ikan nila (oreocrhomis sp) itu karena pertumbuhan ikan nila yang cepat dan lebih tahan terhadap kondisi lingkungan yang ekstrim. Dalam satu unit keramba berukuran 7 x 7m dengan kedalaman 10m akan dapat memproduksi ikan nila sebanyak satu ton tiap musim tanam. Dan dengan masa pemeliharaan selama tiga bulan ikan nila sudah siap untuk dipanen dan dipasarkan, harga di pasaran harganyapun relatif tinggi sehingga usaha pembesaranya bisa mendatangkan keuntungan yang lumayan.

    III. Perumusan Masalah

    Sehubungan dengan pemanfaatan bekas galian tersebut, dilihat dari segi teknis bekas galian tersebut sangat cocok untuk dijadikan media budidaya.ikan nila, karena kualitas air yang bagus dan kedalaman yang memadai. Salah satu teknologi budidaya yang tepat untuk diterapkan ialah teknologi keramba jaring apung. Dengan luas total bekas galian sekitar 20 hektar maka diperkirakan akan mampu memproduksi ikan sebanyak 60 ton per tahun dengan tiga kali musim tanam per tahun.

    Dilihat dari segi ekonomi, tentu saja usaha budidaya ikan di bekas galian tersebut merupakan sebuah peluang usaha yang menjanjikan, apalagi harga ikan di pasaran terus mengalami kenaikan yang di sebabkan menurunnya hasil tangkapan ikan dari laut.

    Perumusan masalah dalam program ini adalah :

    a. bagaimana cara memanfaatkan bekas galian tambang PT. Semen Gresik secara maksimal.

    b. Banyaknya pengangguran pada desa sekitar bekas galian tambang PT. semen gresik.

    c. kurangnya pengetahuan masyarakat sekitar tentang budidaya ikan dengan menggunakan teknologi keramba jaring apung.

    IV. Tujuan Program

    Adapun tujuan dari program ini meliputi :

    a. Memperkenalkan teknologi budidaya Karamba Jaring Apung di kawasan bekas galian tambang PT Semen Gresik sebagai upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitarnya.

    b. Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan masyarakat desa sekitar kawasan bekas galian tambang PT Semen Gresik dalam bidang budidaya ikan nila sebagai suatu usaha lain dalam bidang perikanan.

    c. Meningkatkan pendapatan masyarakat desa disekitar kawasan bekas galian tambang PT Semen Gresik sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus sebagai upaya peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kabupaten Tuban.

    d. Menciptakan peluang kerja baru dan pengurangan pengangguran untuk masyarakat kawasan bekas galian tambang PT semen Gresik dan sekitarnya.

    V. Kegunaan Program

    Ø Memberikan informasi kepada khalayak tentang pemanfaatan bekas galian untuk budidaya ikan terutama ikan nila (Oreochromis sp) dengan teknologi keramba jaring apung.

    Ø Mengenalkan cara budidaya ikan terutama budidaya ikan nila (Oreochromis sp) dengan tehnologi keramba jaring apung pada masyarakat.

    Ø Diharapkan masyarakat dapat menerapkan teknik pembesaran ikan dengan cara keramba jaring apung untuk memanfaatkan bekas galian sehingga dapat mengurangi angka pengangguran serta menambah penghasilan.

    VI. Metode Pelaksanaan

    Pelatihan akan dilaksanakan dengan menggunakan metode penyampaian secara langsung oleh nara sumber dan diikuti dengan sesi tanya jawab, kemudian para peserta diperkenankan melakukan magang pada unit usaha pembesaran ikan nila dengan teknologi keramba jaring apung di bekas galian PT. Semen Gresik.

    VII Sumber Pendanaan

    Dana yang digunakan untuk membiayai pelaksanaan pelatihan pemanfaatan bekas galian tambang PT. Semen Gresik adalah berasal dari Direktorat Jendral Perguruan Tinggi (DIKTI) dalam program PKMI (Program Kreatifitas Mahasiswa Indonesia). Dan dana yang kami terima adalah sebesar Rp 6.000.000 (enam juta rupiah). Adapun rincian penggunaan dana tersebut kami cantumkan dalam lampiran 2.

    VIII Tempat dan Waktu Pelaksanaan Pelatihan

    Pelatihan ini Insya ALLAH akan dilaksanakan di balai desa Temandang Kecamatan Merak Urak Kabupaten Tuban, pada tanggal 7 – 8 Maret 2009.

    IX Peserta dan Nara Sumber

    Peserta pelatihan adalah 10 orang warga Desa Temandang Dan 10 orang warga Desa Pongpongan. Sedangkan nara sumber yang membawakan materi ialah tiga orang dosen FAKANLUT UNIROW, satu orang dari dinas perikanan daerah, satu orang dari dinas perikanan pusat dan satu orang pelakui usaha yang telah berhasi dalam usaha budidaya pembesaran ikan nila dengan teknologi keramba jaring apung.

    X Penutup

    Demikian proposal ini kami susun sebagai bahan acuan pelaksaanaan pelatihan pemanfaatan bekas galian PT. Semen Gresik untuk budidaya pembesaran ikan nila dengan teknologi keramba jaring apung, agar dalam pelaksanaananya dapat berjalan dengan lancar.

    Kami sangat mengharapkan dukungan dari semua pihak, baik secara materiil maupun secara moril demi terlaksananya program pelatihan ini.

    Dan semoga dengan terlaksananya pelatihan ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua, terutama panitia pelaksana.

    Jadwal Pelatihan

    HARI / TANGGAL

    MATERI

    JAM (WIB)

    NARA SUMBER


    Orientasi Program

    07.30 – 08.00

    Panitia


    Budidaya Perikanan Darat

    08.00 – 10.00



    Pengenalan Metode Jakapung

    10.00 – 12.00

    Marita Ika J. M.Si


    Ishoma

    12.00 – 12.30



    Teknik Pembesaran Ikan Dengan Teknologi Keramba Jaring Apung

    12.30 – 14.30

    Ir. Arif Tribina


    Pembuatan Pakan

    08.00 – 10.00

    Sri Wilis S.Pi


    Konstruksi KJA

    10.00 – 12.00



    Ishoma

    12.00 – 12.30



    Prospek Budidaya ( Jakapung )

    12.30 – 14.30

    Petani yang Berhasil


    Penutupan

    14.30 - Selesai

    Panitia

    XI. BIAYA

    Dana yang digunakan untuk membiayai pelaksanaan pelatihan pemanfaatan bekas galian tambang PT. Semen Gresik yang akan dilaksanakan pada tanggal 7 sampai 8 maret 2009 di balai desa Temandang Kecamatan Merak Urak Kabupaten Tuban adalah berasal dari Direktorat Jendral Perguruan Tinggi dalam program PKMI (Program Kreatifitas Mahasiswa Indonesia).

    1. Biaya Pelatihan untuk 30 Peserta selama 3 hari

    - Perangkat sound system(1 set) : Rp. 150.000

    - Meja kursi (untuk 30 orang) : Rp. 100.000

    - Konsumsi peserta dan panitia : Rp. 1.500.000

    - Fotocopy Materi pelatihan : Rp. 300.000

    - Transportasi 6 pembicara @ Rp. 150.000 : Rp. 900.000

    - Sertifikasi : Rp. 200.000

    - Uang transport peserta @ Rp. 60.000 (20 Orang) : Rp. 1200.000

    - Spanduk : Rp. 250.000

    - Dokumentasi : Rp. 100.000

    - Transport panitia : Rp. 800.000

    - Pelaporan : Rp. 300.000

    - Administrasi : Rp. 150.000

    - Lain – lain : Rp. 250.000

    Jumlah Rp. 6.000.000