Tampilkan postingan dengan label mahasiswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mahasiswa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 September 2011

ANATOMI DAN FISIOLOGI IKAN NILA


fish-anatomyanatomy-of-a-fish

ANATOMI DAN FISIOLOGI IKAN NILA HITAM
Pencernaan secara fisik dan mekanik dimulai di bagian rongga mulut yaitu dengan berperannya gigi pada proses pemotongan dan penggerusan makanan. Pencernaan secara mekanik ini juga berlangsung di segmen lambung dan usus yaitu melalui gerakan-gerakan (kontraksi) otot pada segmen tersebut. Pencernaan secara mekanik di segmen lambung dan usus terjadi lebih efektif oleh karena adanya peran cairan digestif. Pada ikan, pencernaan secara kimiawi dimulai di bagian lambung, hal ini dikarenakan cairan digestif yang berperan dalam proses pencernaan secara kimiawi mulai dihasilkan di segmen tersebut yaitu disekresikan oleh kelenjar lambung. Pencernaan ini selanjutnya disempurnakan di segmen usus. Cairan digestif yang berperan pada proses pencernaan di segmen usus berasal dari hati, pankreas, dan dinding usus itu sendiri. Kombinasi antara aksi fisik dan kimiawi inilah yang menyebabkan perubahan makanan dari yang asalnya bersifat komplek menjadi senyawa sederhana atau yang asalanya berpartikel makro menjadi partikel mikro. Bentuk partikel mikro inilah makanan menjadi zat terlarut yang memungkinkan dapat diserap oleh dinding usus yang selanjutnya diedarkan ke seluruh tubuh. .
Anatomi dan Fisiologi Ikan nila
DEFINISI IKAN (PISCES)
Bertulang belakang (termasuk vertebrata), habitatnya perairan, bernapas dengan insang (terutama), bergerak dan menjaga keseimbangan tubunya menggunakan sirip-sirip, bersifat poikilotermal.
MORFOLOGI (Bentuk Tubuh) IKAN

Bervariasi sekali, tetapi morfologi dasarnya adalah terdiri dari gambar 1, gambar 2.a bentuk umum : bilateralkepala, badan, dan ekor simetri, dan gambar 2.b nonsimetri

ikan nila ( Oreochromis niloticus )
Kerajaan: Animalia

Filum: Chordata

Kelas: Actinopterygii

Ordo: Perciformes

Famili: Cichlidae

Genus: Oreochromis

Spesies: O. niloticus

ANATOMI
Ada 10 sistem anatomi pada tubuh ikan :
1. Sistem penutup tubuh (kulit) : antara lain sisik, kelenjar racun, kelenjar lendir, dan sumber-sumber pewarnaan.
2. Sistem otot (urat daging): – penggerak tubuh, sirip-sirip, insang
- organ listrik
3. Sistem rangka (tulang) : tempat melekatnya otot; pelindung organ-organ dalam dan penegak tubuh
4. Sistem pernapasan (respirasi): organnya terutama insang; ada organ-organ tambahan
5. Sistem peredaran darah (sirkulasi) : – organnya jantung dan sel-sel darah
- mengedarkan O2, nutrisi, dsb
6. Sistem pencernaan : organnya saluran pencernaan dari mulut – anus
7. Sistem saraf : organnya otak dan saraf-saraf tepi
8. Sistem hormon : kelenjar-kelenjar hormon; untuk pertumbuhan, reproduksi, dsb
9. Sistem ekskresi dan osmoregulasi : organnya terutama ginjal
10. Sistem reproduksi dan embriologi : organnya gonad jantan dan betina
Ada hubungan yg sangat erat antara ke-10 sistem anatomi tersebut, misalnya :
menentukan cara bergeraknya mempengaruhi bentuk tubuh - sistem urat daging dan sistem rangka
- O2 dari perairan ditangkap olehsistem pernafasan dan peredaran darah dibawa ke seluruh tubuh melalui darahdarah, dipertukarkan dg CO2
ANATOMI IKAN
1. B – S Ikan mempunyai variasi antara lain dalam hal bentuk, ekologi, habitat, keragaman jenis dan reproduksi
2. B – S Organ pada kulit adalah sisik, kelenjar lendir, organ cahaya dan organ listrik
3. B – S Fungsi pewarnaan pada tubuh ikan adalah untuk penyalamatan diri dan mencari makan
4. B – S Organ cahaya pada ikan ada dua macam, yaitu simbiosis mutualistik antara ikan dengan bakteri yang mengeluarkan cahaya dan berasal dari modifikasi kelenjar lendir
5. B – S Walaupun bentuk ikan bervariasi tetapi pola umumnya tetap yakni terdiri dari bagian kepala, badan, dan ekor.
6. B – S Ikan selain menguntungkan bagi manusia, tetapi ada juga bahayanya misalnya ikan buas, ikan beracun dan berorgan listrik
7. B – S Dalam sistem sirkulasi, jantung merupakan organ yang sangat penting karen berperan sebagai pemompa darah ke seluruh bagian tubuh dan bekerja secara otomatis di bawah kendali saraf pusat (Involunteer)
8. B – S Alat pernapasan tambahan pada ikan berfungsi untuk mengambil O2 dari dalam air karena kerja insang kurang efektif
9. B – S Morfologi ikan merupakan kombinasi sistem rangka dan urat daging sebagai evolusi adaptasi ikan terhadap lingkungannya
10. B – S Darah berfungsi mengangkut sari-sari makanan, hormon-hormon, antibodi dan sisa-sisa metabolisme gas-gas antara lain O2

Sabtu, 25 Desember 2010

PENGAWAS PERIKANAN BRONDONG LAMONGAN

Pengawasan Perikanan serta Operasional Pengawasan dan Pengendalian Sumberdaya Perikanan

Sumberdaya ikan bagian dari kekayaan alam sesuai “pasal 33 (3) UUD 1945” Jika dikelola dengan baik merupakan Sumber Ekonomi Potensial. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya “dikuasai” oleh “Negara” dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Apa makna/arti “dikuasai” oleh “Negara” ? Negara/Pemerintah mengatur pemanfaatannya (SDI) atau Penggunaannya.

Bagaimana arah pengaturan pemanfaatan SDI ? Agar pemanfaatan SDI untuk sebesar- besar “kemakmuran rakyat” dan Pemanfaatan yang berkelanjutan.

Perwujudan Pengaturan Pemerintah ? Yaitu dengan diterbitkannya Undang-Undang No. 9 Tahun 1985 yang diganti dengan Undang-Undang No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. (Sebagai UU Organik) dan Dengan Undang-Undang No. 31 Tahun 2004
Arah Ekonomi Potensial menjadi Ekonomi Riel.

Apa muatan UU No. 31 Thn 2004 ? Secara garis besar merupakan “Pengelolaan Perikanan” Perikanan adalah semua “kegiatan” yang berhubungan dengan Pengelolaan dan Pemanfaatan. Dimulai dari pra produksi, produksi, pengolahan dan pemasaran yang dilaksanakan dalam suatu “sistim bisnis” perikanan.

Pengelolaan” Perikanan adalah “semua upaya” termasuk proses yang terintegrasi dalam
(a). pengumpulan informasi, analisis dan perencanaan (b). konsultasi dan keputusan alokasi Sumberdaya Ikan (c). implementasi peraturan, perundang-undangan (d). Penegakan hukum. Dengan tujuan tercipta kelangsungan Produktivitas serta Kelestarian

Sumberdaya Ikan.

Berdasarkan pemahaman pengelolaan perikanan dapat diperoleh muatan sebagai berikut : (1). Ada pengumpulan data dan informasi yang dianalisis (2). Ada suatu perencanaan berdasarkan analisa data dan informasi. (3). Ada penetapan alokasi sumber berdasarkan data dan informasi. (4). Ada kebijakan sebagai suatu keputusan berdasarkan : (a). Data dan informasi (b). Perencanaan (c). Alokasi (d). Konsultasi (5). Ada pengaturan dan penetapan terhadap “pemanfaatan sumber” dan kelestarian lingkungannya (6). Ada pengawasan dan penegakan hukum (7). Ada pertimbangan “bisnis perikanan”

Dari pemahaman pengelolaan perikanan dapat diketahui bahwa pengawasan perikanban merupakan bagian dari pengelolaan perikanan atau lahirnya pengawasan perikanan bersumber dari dan ditujukan pada pengelolaan perikanan dalam UU No. 31 Tahun 2004

PENGAWASAN PERIKANAN

Pertanyaan (1). Mengapa diperlukan pengawasan perikanana? Atau yang menjadi tujuan ditetapkannya pengawasan perikanan? (2). Apa sebenarnya pengawasan itu dan apa saja kewenangannya? (3). Apa saja yang menjadi ruang lingkup itu atau apa saja yang diawasi?

Pengawasan bagian dari pengelolaan perikanan dan dalam pengelolaan perikanan ada fungsi pengaturan, khususnya pengaturan pemanfaatan SDI agar pengelolaan dan pemanfaatan sesuai dengan pasal 33 UUD ’45 maka untuk itu diperlukan pengawasan

Dengan demikian pengawasan dilakukan dengan tujuan agar “maksud dan tujuan” suatu pengaturan dapat dicapai. Jika demikian setiap pengaturan haruslah jelas maksud dan tujuannya, yaitu tertib, adil, objektif dan untuk kepentingan orang banyak

Berdasarkan pengertian perikanan, pengawasan dapat memberikanan makna 3 hal : (1). Pengawasan sebagai suatu “kegiatan” (2). Pengawasan sebagai suatu “pengendalian” (3). Pengawasan sebagai suatu “tindakan.

Pengawasan sebagai suatu “kegiatan” merupakan pengamatan dan pengumpulan data, fakta dan informasi tentang pelaksanaan peraturan perundang-undangan
ada analisa dan perencanaan dapat langsung dan tidak langsung.

Pengawasan sebagai suatu “pengendalian” merupakan pencegahan awal , dapat dengan proses perijinan, verifikasi/pemeriksaan, pengaturan larangan-larangan dan sosialisasi

Pengawasan sebagai suatu “tindakan” merupakan penanganan, pemberian sanksi atas pelanggaran dengan maksud menimbulkan efek jera /menciptakan kehendak menaati aturan.

TUGAS DAN KEWENANGAN PENGAWAS

Pasal 66 ayat (2) : Pengawas bertugas mengawasi tertib peraturan perundang-undangan di bidang perikanan. Makna dari tugas pengawasan menunjukkan :

  1. Obyek pengawasan : peraturan perundang-undangn di bidang perikanan (tidak boleh di luar perikanan)
  2. Dalam hal apa : ketaatan/kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan
  3. Yang dilakukan : kegiatan data dan informasi, pengendalian dan penindakan (hal ini wajib dilaksanakan pengawas)

Agar pengawas dapat melaksanakan tugasnya, maka harus diberi kewenangan untuk melakukan :

• Kegiatan pengumpulan data dan informasi

• Pengendalian

• Penindakan

Siapa pengawas itu? Pasal 66 (3) Pengawas terdiri : PPNS Perikanan dan PNS Perikanan non penyidik. PERMEN No. 03 tahun 2007 menegaskan pengawas harus diangkat oleh menteri atau pejabat yang ditunjuk Syarat untuk dapat diangkat atau ditunjuk harus PNS Perikanan.

Ruang Lingkup Pengawasan, Dilihat dari aspek tugas dibidang perikanan, maka ruang lingkup pengawasan seluruh peraturan perundang-undangan bidang perikanan antara llain :

  1. Pelaksanaan peraturan tentang penangkapan ikan
  2. Pelaksanaan peraturan tentang pembudidayaan ikan
  3. Pelaksanaan peraturan tentang pengolahan ikan
  4. Pelaksanaan peraturan tentang pengangkutan ikan
  5. Pelaksanaan peraturan tentang pemasaran ikan
  6. Pelaksanaan peraturan tentang penelitian ikan
  7. Dan lain-lain di bidang perikanan

Berdasarkan penjelasan pasal 66 (1), Pengawas Perikanan antara lain :

  1. Pengawas Penangkapan
  2. Pengawas Pembenihan
  3. Pengawas Budidaya
  4. PEngawas Hama dan Penyakit Ikan
  5. Pengawas Mutu
  6. Pengawas Lain-lain di Bidang Perikanan

Apa Saja Obyek Pengawasan ? a. Setiap “orang” yang mempunyai kegiatan di bidang

perikanan (subyek hukum) b. Setiap “benda” yang dipergunakan untuk melakukan

kegiatan di bidang perikanan.

Setiap orang adalah orang sebagai pribadi atau orang sebagai badan hukum Setiap benda adalah benda bergerak/tidak bergerak, benda berwujud/tidak berwujud

Dimana pengawasan dilakukan. Pengawasan dilakukan di tempat mana objek berada, antara lain :

  1. Laut, sungai, waduk dan rawa
  2. Lahan pembudidayaan ikan, tempat pembenihan ikan
  3. Unit pengolahan ikan
  4. Pelabuhan, bandar udara
  5. Di atas kapal
  6. Dll WPP RI

PELAKSANAAN PENGAWASAN

Berdasarkan FAO, pengawasan dilaksanakan dengan sistem monitoring (M), Controlling (C) dan Surveillance (S) yang dikenal dengan MCS

Monitoring (Pemantauan) Setiap pengawas wajib melakukan pengamatan/pemantauan, pengumpulan data, fakta dan infomasi untuk selanjutnya dianalisa dengan menggunakan perangkat teknis dan peraturan. Konsekuensinya : Setiap pengawas harus memahami teknis dan peraturan.

Manfaat Monitoring

  1. Sebagai bahan pertimbangan
  2. Sebagai dasar tindak lanjut
  3. Sebagai bahan perencanaan
  4. Sebagai bahan laporan
  5. Sebagai bahan memberikan usulan

Monitoring dapat dilakukan dengan alat atau tanpa alat, misalnya dengan VMS.

Controlling/Pengendalian Setiap pengawas wajib melakukan pengendalian sebelum terjadi pelanggaran.

Pengendalian dilakukan melalui :

• Pengaturan, pembuatan juknis, pemberitahuan/pengumuman

• Sosialisasi, penyuluhan

• Pembuatan perangkat pencegahan seperti SLO/HPK

• Pemeriksaan/Verifikasi dokumen

Pengendalian merupakan tindakan pencegahan dan sebagai hal utama dalam kegiatan pengawasan

Surveillance/Operasi Lapangan Pengawasan dalam bentuk operasional yang diikuti penindakan atau pengenaan sanksi pelanggaran. Surveillance dilakukan sebagai kegiatan pengawasan untuk meyakinkan adanya/ tingkat pelanggaran. Tindakan surveillance merupakan kegiatan terakhir yang membutuhkan biaya dan tenaga. Surveillance dapat menggunakan kapal pengawas atau kapal patroli

STRATEGI PENGAWASAN

Bermula di darat dan berakhir di darat, dilaksanakan dengan :

1. Preemptive : Pencegahan, offensif sebelum terjadi pelanggaran.

2. Persuasif : Pembinaan terhadap pelaku usaha /kegiatan perikanan untuk meningkatkan kesadaran/ketaatan hukum.

3. Responsif : Reaksi cepat melakukan penindakan dan penangana terhadap pelanggaran (penyidikan) .

Pengawasan mengutamakan pengendalian dalam bentuk Preemptive dan Persuasif, semakin tinggi kesadaran hukum dan ketaatan hukum maka penindakan/responsif akan menurun, sehingga terjadi penurunan biaya pengawasan. Penindakan/responsif merupakan upaya terakhir dalam pengawasan

SARPRAS PENGAWASAN

Dalam melakukan pengawasan diperlukan sarana dan prasarana pengawasan meliputi :

  1. Perangkat Peraturan
  2. Pengawas yang cakap dan terampil
  3. Alat penginderaan jarak jauh
  4. Alat penguji/laboratorium
  5. Kendaraan/Transportasi
  6. Kapal Pengawas
  7. Senjata
  8. dll.

KAPAL PENGAWAS

Kedudukan Kapal Pengawas berbeda dengan yang lain. Kapal Pengawas berfungsi melakukan pengawasan dan penegakan hukum. Kapal pengawas dapat menghentikan, memeriksa, membawa dan menahan kapal serta dilengkapi dengan senjata api. Jika demikian kapal pengawas sebagai subyek hukum/subyek pengawasan ?

Mengapa ?

1. Karena Kapal Negara dengan Tanda Khusus

2. Karena mewakili Negara

PENYIDIKAN, Siapa yang berwenang melakukan Penyidikan berdasarkan Pasal 73 (1) :

  1. PPNS Perikanan
  2. Perwira TNI-AL
  3. Pejabat POLRI

Kewenangan penyidikan terhadap apa ? Terhadap tindak pidana perikanan. Tindak Pidana Perikanan Dimana ? Apakah di semua Locus Delicti ? Misal : Tindak Pidana Perikanan di Sungai, atau Rawa, apakah penyidik TNI-AL berwenang? Jwb : UU No.31 tahun 2004 tidak menjelaskan

Kewenangan Lain Selain Penyidikan

UU No. 31 tahun 2004 tidak mengatur kewenangan TNI-AL dan POLRI selain penyidikan, jika demikian apa dasar POLRI melakukan pemeriksaan kapal di laut, di pelabuhan dan apa dasar POLRI memeriksa dokumen di darat dan di laut.

Demikian halnya dengan TNI-AL, UU No. 31 Tahun 2004 tidak mengatur kewenangan TNI-AL untuk memeriksa kapal perikanan di laut

Kewenangan Kapal Patroli

Kewenangan Kapal Patroli TNI-AL dan POLRI untuk melakukan pengawasan dan penegakan hukum perikanan di laut tidak diatur dalam UU No.31 Tahun 2004. UU No. 31 Tahun 2004 memberi kewenangan pengawasan dan penegakan hukum “hanya” kepada Kapal Pengawas Perikanan. Jika demikian halnya, kedudukan UU No. 31 tahun 2004 sebagai “Lex Specialist” tidak sepenuhnya dan tidak utuh.

Mencari Dasar Hukum Kewenangan

Selain UU No. 31 Tahun 2004 TNI-AL mendasari pada UU No. 5 Tahun 1983 dan UU TNI, jika hal ini benar tentu hanya di ZEEI saja. POLRI selain UU No. 31 tahun 2004 juga berdasar pada UU tentang Kepolisian RI, hal ini juga hanya di teritorial saja, selain sungai, waduk, rawa dan darat.

Rabu, 22 Desember 2010

FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN UNIROW

TUJUAN

  1. Menghasilkan sarjana yang memiliki keahlian dan prestasi dibidang perikanan dan kelautan sehingga mampu menghadapi perkembangan IPTEK
  2. Menghasilkan sarjana yang memiliki kemampuan menciptakan lapangan pekerjaan sekaligus mampu bersaing serta menangkap peluang pasar kerja dibidang perikanan dan kelautan
  3. Membekali lulusan dengan pengetahuan, ketrampilan, serta etika sehingga mampu untuk melanjutkan studi lanjut dan siap berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat.

PROGRAM STUDI ILMU PERIKANAN

1.TUJUAN

Menghasilkan Sarjana Perikanan yang menguasai dan mengimplementasikan prinsip-prinsip eksploitasi, eksplorasi, konservasi, rehabilitasi dan diversifikasi sumberdaya perikanan, mendayagunakan sarana dan prasaana, menghitung dan menganalisa nilai ekonomik sumberdaya perikanan, serta dapat melaksanakan pemberdayaan masyarakat

2. KEAHLIAN

  1. Mempunyai kemampuan pengetahuan dasar dan keahlian dalam bidang perikanan
  2. Memiliki kemampuan dalam menerapkan metode dan tehnologi termasuk SIG (Sistem Informasi Geografis), Biotehnologi dalam kegiatan pengelolaan, penentuan pemetaan serta evaluasi sumber daya perikanan
  3. Memiliki kemampuan mengembangkan pemanfaatan sumberdaya perikanan dalam lingkup kewilayahan, komoditi dan usaha produktif, efisien dan berkelanjutan
  4. Penguasaan, penggunaan alat-alat laboratorium maupun lapangan dibidang perikanan dan lingkungan perairan.

3. PROSPEK LULUSAN

Bidang kerja dari lulusan program studi S1 Ilmu Perikanan dapat bekerja pada perusahaan / lembaga baik di dalam negeri maupun di luar negeri, yang meliputi:

  1. Bidang industri perikanan baik dibidang budidaya, penangkapan maupun pengolahan
  2. Laboratorium Penyakit Ikan dan Lingkungan ;
  3. Lembaga-lembaga Pemerintah seperti LIPI, LAPAN, BBPT, BP POM, Dinas Perikanan dan Kelautan, Perum Pelabuhan, Balai Karantina Ikan (BKI)
  4. Pengelolaan Lingkungan Perairan,
  5. Lembanga-lembaga luar Negeri seperti Seame Biotrop, WWF, Fishery Laboratorium
  6. Dosen, Guru SMK Perikanan,
  7. Perusahaan Asing di bidang pengolahan dan penangkapan ikan, seperti PT. Haslindo (Jepang), PT. Kyokko Shinju (Jepang) , Syarikat PG Mohn Shahrimin (Brunai) dan lain sebagainya
  8. Perusahaan dalam Negeri dibidang pengolahan, budidaya dan penangkapan PT. Bima Karisma (Bali), PT Bonekom (Ujung Pandang), PT. Mitra Mas (Jakarta) dan lain sebagainya
  9. Wiraswasta

4. PROGRAM UNGGULAN

a. Mengadakan sertifikasi keprofesian bagi mahasiswa perikanan seperti sertifikasi PENYAKIT IKAN, TMMT, AEMO,SIG

b. Mengembangkan tehnologi pengendalian penyakit pada ikan dan udang berbasis imunisasi dan biosecurity

c. Mendukung program Pemerintah di Bidang perikanan tahun 2007 “Peningkatan Ekspor Ikan Kerapu, Udang Dan Rumput Laut Guna Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat”

5. LABORATORIUM

a. Laboratorium Basah ( Wet Lab)

perikanan tuban5

Merupakan sebuah prasarana yang digunakan untuk pratikum mata kuliah, penel;itian dan pengembangan perikanan meliputi kegiatan pembenihan, pembesaran dan kultur.

b. Laboratorium Kualitas Air

perikianan tuban4

perikanan tuban3

Keberadaan fasilitas laboratorium ini dimaksudkan untuk menunjang kegiatan pendidikan dan penelitian terutama yang berkaitan dengan lingkungan fisik dan kimia perairan, baik untuk tujuan budidaya ikan maupun pelestarian lingkunmgan perairan

c. Laboratorium Biologi Perairan

perikanan tuban2

perikanan tuban

Laboratorium ini terdiri dari reagen-reagen dan peralatan yang menunjang kegiatan pendidikan dan penelitian mata kuliah yang berhubungan dengan pengelolaan lingkungan, biologi perairan biota makro dan mikro abiotik

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN

1. TUJUAN

Menghasilkan Sarjana Kelautan yang terampil, mampu berpikir, berkarya dan mengembangkan ilmu dan tehnologi kelautan, khususnya dalam mendeteksi dan mengestimasi sumberdaya hayati laut untuk mendukung pengelolaan dan pemanfaatannya

2. KEAHLIAN

a. Mempunyai kemampuan pengetahuan dasar dan keahlian dalam bidang kelautan

b. Memiliki kemampuan metode dan tehnologi kelautan termasuk SIG (Sistem Informasi Geografis), Biotehnologi dalam kegiatan pengelolaan eksplorasi, penentuan dan pemetaan, sera evaluasi sumberdaya hayati dan non hayati kelautan

c. Mempunyai kemampuan merencanaan pembangunan di bidang kelautan berbasis masyarakat dan industri dalam skala lokal, regional maupun nasional melalui pendekatan lintas sektoral, keterpaduan serta keberlanjutan dengan menggunakan metode-metode yang relevan

d. Penguasaan penggunaan alat-alat laboratorium maupun lapangan di bidang kelautan seperti mampu mendeteksi adanya minyak bumi di perairan laut, mampu mengetahui fungsi OTEC (Oceanic Thermal Chemical) sebagai pembangkit tenaga listrik, dan sebagainaya

3. PROSPEK LULUSAN

Bidang kerja lulusan program studi S1 Ilmu Kelautan dapat bekerja pada perusahaan / lembaga baik di dalam negeri maupun di luar negeri, yang meliputi:

  1. bidang sumber daya alam non hayati baik swasta maupun pemerintah seperti Pertamina, Lemigas, PT. Petro China (Bojonegoro), PT. Shillelagh Marine Construction (Jakarta) dan lain sebagainya
  2. Lembaga-lembaga Pemerintah seperti LIPI, LAPAN, BBPT, Dinas Perikanan dan Kelautan, Dinas Hidro Oseanografi, PPLH (pusat pengendali lingkungan hidup), Perum Pelabuhan,
  3. Perusahaan dibidang Jasa Konsultasi Pariwisata , Marine Tourism service seperti PT. Pelayaran Gusuri LLOYD, ANCOL, dll
  4. Perusahaan dibidang Jasa Pelayanan Kepelabuhan, Jasa Angkutan Laut seperti PT. Pelabuhan Indonesia III dll
  5. LSM Amdal Pantai, Peningkatan SDM dibidang Kelautan seperti TNC (The Nature Conservancy Southeast Asia for Marine Protected Area
  6. Perusahaan Peralatan Oceanografi seperti Syarikat Gamafco
  7. Perusahaan Marine Constrution seperti PT. Fenergi Cipta
  8. Galangan Kapal seperti , PT. Dumas
  9. Laboratorium Kelautan, sepert Marine Laborotorium Simiman
  10. Dosen, dan Guru7 SMK
  11. Wiraswasta di bidang kelautan seperti Bidang Jasa Konsultasi Pariwisata , Marine Tourism service, Bidang Jasa Pelayanan Kepelabuhan, Jasa Angkutan Laut, Amdal Pantai, Peralatan Oceanografi, Marine Constrution, Peningkatan SDM di bidang Kelautan, Galangan Kapal, Penyelaman

4. PROGRAM UNGGULAN

a. Mengadakan sertifikasi keprofesian bagi mahasiswa kelautan seperti sertifikasi AMDAL A dan B, SIG, IMO

b. Mengembangkan tehnologi OTEC sebagai alternatif sumberdaya listrik

c. Mendukung program Pemerintah di Bidang Kelautan tahun 2007 “ Peningkatan Percepatan Kelautan secara lestari untuk Kesejahteraan Bangsa”

5. LABORATORIUM

a. Laboratorium Hidro Oseanografi

Peralatan-peralatan yang ada di laboratorium ini digunakan untuk menunjang kegiatan pendidikan dan pengembangan IPTEK yang berhubungan dengan sedimentasi, gelombang dan pasang surut

Perikanan Tuban

perikanan tuban

clip_image015

b. Laboratorium Biologi Laut

Peralatan-peralatan yang ada di laboratorium ini digunakan untuk menunjang kegiatan pendidikan dan pengembangan IPTEK yang berhubungan dengan biolagi laut diantaranya lapisan epidermis coral, rumput laut dan biota laut lainnya

perikanan UNIROW

clip_image019

c Kapal latih

Kapal ini digunakan untuk menunjang pendidikan dan penelitian di bidang kelautan terutama untuk dalam pengambilan sampel kualitas air, biota laut, kandungan unsur –unsur kelautan baik fisik maupun kemis

perikanan tuban1

Peralatan-peralatan yang ada di laboratorium ini digunakan untuk menunjang kegiatan pendidikan dan pengembangan IPTEK yang berhubungan dengan sedimentasi, gelombang dan pasang surut

PROGRAM DIPLOMA PERIKANAN

A. BUDIDAYA PERIKANAN

1. Tujuan Program Studi Budidaya Perikanan

Tujuan Program Studi Budidaya Perikanan adalah menghasilkan tenaga profesional yang menguasai serta mampu menerapkan dan mengembangkan dasar ilmu pengetahuan dan teknologi budidaya perikanan dalam kegiatan produktif, ekonomis/konsep agribisnis, yang berwawasan lingkungan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

2. Keahlian

a. Memahami dan mengetahui tehnik budidaya perikanan yang ramah lingkungan dan ekonomis.

b. Mampu melaksanakan usaha produksi benih ikan , udang dan biota air lainnya

c. Mampu melakukan analisa dan perbaikan ,pengelolaan kualitas air serta pengendalian hama dan penyakit

d. Mampu mengunakan alat-alat laboratorium dan menganalisis usaha budidaya perikanan.

3. PROSPEK LULUSAN

Bidang kerja lulusan program Diploma Budidaya Perikanan dapat bekerja pada perusahaan / lembaga baik di dalam negeri maupun di luar negeri, yang meliputi:

a. Lembaga-lembaga pemerintah ; Balai Budidaya Air Payau, Balai Budidaya Air Laut dan Balai Budidaya Air Tawar, Balai Budidaya Ikan, Balai Laboratorium Penyakit Ikan, Balai Karantina Ikan, atau seluruh Balai dibawah Departemen Perikanan dan Kelautan

b. Lembaga-lembaga swasta ; Tambak-tambak swasta masyarakat, Bacdyard, Hatcery, Pembuatan pakan ikan skala besar maupun rumah tangga

c. Wiraswasta

4. PROGRAM UNGGULAN

a. Meningkatkan ketrampilan mahasiswa dengan program magang plus

b. Mengadakan Worshop “Monitoring Residu Obat, Bahan Kimia, Bahan Biologi dan Kontaminan pada Pembudidaya Ikan”

c. Mengembangkan program “Pengurangan Penggunaan Obat, Bahan Kimia, Bahan Biologi dan Kontaminan pada Ikan-ikan yang Dibudidayakan”

5. LABORATORIUM

a. Laboratorium Parasit dan Penyakit Ikan

Merupakan laboratorium untuk menunjang pendidikan dan penelitian kesehatan, patologi, parasit dan pembuatan parasit penyakit ikan . Laboratorium ini dilengkapi dengan bahan dan peralatan pengamatan mikroba akuatik yang merugikan

perikanan tuban

clip_image025

b. Laboratorium Nutrisi Ikan

clip_image027

B. MANAJEMEN SUMBERDAYA PERIKANAN

1. Tujuan Program Studi Manajemen Sumberdaya Perikanan

Tujuan Program Studi Manajemen Sumberdaya Perikanan adalah menghasilkan tenaga profesional yang menguasai serta mampu dan mampu menerapkan serta mengembangkan ilmunya dalam mengelola sumberdaya perikanan secara rasional, bertanggung jawab, dan berkelanjutan untuk peningkatan kesejahteraan rakyat dan pelestarian sumberdaya ikan.

2. Keahlian

a. Memahami dan mengetahui karakter sumberdaya ikan dan perairan serta memahami konsep keragaman pengelolaan sumberdaya perikanan

b. Mampu mendayagunakan sarana dan prasarana kegiatan perikanan dan pengelolaannya bagi pengembangan masyarakat.

c. Mampu melakukan menghitung dan manganalisisi baik secara sosial ekonomi dan ekologi pemanfaatan sumberdaya perikanan.

d. Menguasai permasalahan lapangan dan dapat merancang model pengelolaan perikanan

3. Prospek Lulusan

Bidang kerja lulusan program Diploma Manajemen Sumberdaya Perikanan dapat bekerja pada perusahaan / lembaga baik di dalam negeri maupun di luar negeri dibidang eksploitasi, eksplorasi, konservasi, rehabilitasi dan diversifikasi sumberdaya perikanan, yang meliputi:

  1. Lembaga-lembaga pemerintah ; Departemen Perikanan dan Kelautan, Perum Pelabuhan, TPI (Tempat Pendaratan Ikan),PPI (Pangkalan Pendaratan Ikan), PPN (Pelabuhan Perikanan Nusantara), PPS (Pelabuhan Perikanan Samudera), Departemn Perhubungan
  2. Lembaga-lembaga swasta ; Industri-industri Perikanan Tangkap baik di luar maupun dalam negeri,
  3. Wiraswasta

4. PROGRAM UNGGULAN

  1. Meningkatkan ketrampilan mahasiswa dengan program magang plus
  2. Mengadakan Worshop “ Penggunaan Gillnet dalam Peningkatan Hasil Tangkap Nelayan Tuban”
  3. Mengembangkan program pendampingan terhadap Nelayan Payang dalam Meningkatkan Hasil Tangkapan

5. LABORATORIUM

a. Laboratorium Navigasi

Merupakan kelengkapan prasarana untuk menunjang kegiatan praktikum dan pengembangan IPTEKS yang berhubungan dengan kegiatan penangkapan ikan. Laboratorium ini dilengkapi dengan peralatan untuk simulasi penangkapan ikan ini

clip_image029

  1. Laboratorium Tangkap

Merupakan laboratorium untuk menunjang pendidikan, penelitian, dan pengembangan peralatan penangkapan ikan baik perairan air tawar maupun laut. Dilengkapi dengan koleksi alat tangkap ikan mulai dari yang sudah hampir punah sampai model-model terbaru atau hasil modifikasi.

clip_image031

clip_image033

    1. PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN

1. Tujuan Program Studi Pengolahan Hasil Perikanan

Tujuan Program Studi Pengolahan Hasil Perikanan adalah menghasilkan tenaga profesional yang mampu menerapkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi hasil perikanan dalam kegiatan penanganan, pengawetan, pemanfaatan, dan pengolahan hasil perikanan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

2. Keahlian

a. Memahami dan mengetahui karakter ikan sebagai bahan makanan dan bahan baku industri serta mengetahui teknik penanganan dan pengolahan ikan

b. Mampu mengelola dan merawat alat-alat pengolahan, serta mampu melakukan pengendalian sistem jaminan mutu keamanan hasil perikanan pada produksi, pengolahan dan distribusi

c. Mampu melakukan analisis usaha industri pengolahan serta potensi pengembangan produk hasil perikanan

d. Menguasai permasalahan lapangan dan dapat merancang model keamanan hasil perikanan mulai dari pengolahan sampai distribusi

3. Prospek Lulusan

Bidang kerja lulusan program Diploma Pengolahan Hasil Perikanan dapat bekerja pada perusahaan / lembaga baik di dalam negeri maupun di luar negeri di bidang produksi pengolahan, distribusi, jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan, yang meliputi:

  1. Lembaga-lembaga Pemerintah ; Departemen Perikanan dan Kelautan, TPI (Tempat Pendaratan Ikan), BP POM, Pasar ikan Higiene
  2. Lembaga-lembaga swasta ; Industri-industri Pengolahan Hasil Perikanan baik di luar maupun dalam negeri,
  3. Wiraswasta

4. PROGRAM UNGGULAN

  1. Meningkatkan ketrampilan mahasiswa dengan program magang plus
  2. Mengadakan Worshop “ SURIMI – Olahan antara yang multiguna”
  3. Mengembangkan program diversifikasi produk olahan ikan guna peningkatan pendapatan istri-istri nelayan

5. LABORATORIUM

a. Laboratorium Tehnologi Hasil Perikanan

clip_image035

clip_image037

Selasa, 21 Desember 2010

Budidaya tambak udang windu organic Perikanan Tuban

image Persiapan tambak

  1. Pengeringan tambak.
  2. Ukur pH tanah dasar, usahakan pH 7 bila kurang lakukan penebaran kapur sesuai dosis anjuran.
  3. Tebar kompos 10 - 100 gr / m2 tergantung kesuburan lahan.
  4. kendalikan keong dengan basmi keong ( molusikida organic ).
  5. isi air tambak minimal 50 cm ( di pelataran ).
  6. Tebar SOZOFM – 2 dosis 10 botol , lalu diamkan 2 minggu.
  7. lakukan penanggulangan hewan pesaing di hari ke 12, dengan memakai saponen sesuai dosis anjuran.
  8. lakukan penebaran SOZOFM – 2 dosis 5 botol / ha, isi kolam sampai penuh.
  9. hari ke 14 benur sudah siap ditebar.
  10. Lakukan control air kolam minimal 2 kali seminggu pH dan temperature agar kualitas air dapat terpantau baik.
  11. pengulangan penebaran SOZOFM – 2 setiap 2 minggu sekali sebanyak 5 botol / ha.

Yang perlu diperhatikan saat budidaya adalah kualitas air, dimana penurunan kualitas air biasanya di sebabkan beberapa factor, seperti :

    • Pembusukan sisa limbah organic dari kotoran udang.
    • Pembusukan klekap.
    • Pembusukan sisa kulit udang hasil dari moulting ( ganti kulit ).
    • Air terlalu dangkal, sehingga suhu air terlalu tinggi disiang hari dan terlalu dingin dimalam hari, menyebabkan udang stress.

Peranan SOZOFM – 2 pada budidaya udang windu organic :

  1. Pembusukan sisa limbah kotoran udang, klekap, dan pembusukan sisa kulit udang dapat diatasi karena SOZOFM – 2 mengandung lactobacillus 106, yang mampu mengurai bahan- bahan tersebut menjadi mineral volume kecil, yang akan diserap oleh Plankton, phytoplankton akan menghasilkan oxygen saat berphotosintesa disiang hari sehingga kandungan oxygen terlarut akan meningkat, Zooplankton akan menjadi pakan alami udang dengan sangat melimpah.
  2. Meningkatkan metabolisme pencernaan udang sehingga pakan alami yang dikonsumsi akan terserap secara optimal, sehingga sisa limbah berupa faeces tidak mengandung protein lagi, sehingga aman bagi lingkungan perairan, sehingga kualitas air tetap baik.
  3. Kandungan asam amino ,asam lemak organic mampu meningkatkan daya tahan tubuh udang dari stress terhadap tekanan lingkungan yang kurang bagus, sehingga pertumbuhannya tetap baik.
  4. Meningkatkan citarasa daging udang dan daya tahan simpan pasca panen.

Senin, 22 November 2010

Budidaya Ikan Cupang Peluang Usaha Baru

  ikan cupang_perikanan unirowBudidaya Ikan Cupang

Peluang usaha baru dalam dunia budidaya air tawar yaitu budidaya ikan cupang yang sangat menjanjikan Untuk membudiayakan atau mengembangkan ikan cupang hias tidaklah memerlukan lahan yang luas, cukup menyediakan areal sekitar 5 meter persegi. Di Wilayah Jakarta Pusat budidaya ikan cupang ada yang dilakukan diatas dak rumah dan dipekarangan yang relatif sempit, dengan menggunakan wadah bekas ataupun kolam bak semen atau akuarium. Ikan ini relatif mudah dipelihara dan dibudidayakan, karena tidak memerlukan pakan khusus. Pakan ikan untuk benih biasanya digunakan pakan alami berupa kutu air atau daphnia sp. yang dapat ditemukan di selokan yang airnya tergenang. Untuk induk cupang digunakan pakan dari jentik-jentik nyamuk (cuk). Untuk pertumbuhan anak ikan bisa diberi kutu air dan diselingi dengan cacing rambut, akan lebih mempercepat pertumbuhan anak ikan.

Wadah Budidaya

Pada umumnya wadah pemeliharaannya adalah bak semen atau akuarium yang ukurannya tidak perlu besar yaitu cukup 1 x 2 m atau akuarium 100 x 40 x 50 cm, sedang wadah perkawinannya lebih kecil dari wadah pembesaran, yang bisa digunakan antara lain : baskom, akuarium kecil atau ember dapat dipakai untuk memijahkan ikan.

Ciri-ciri khusus

Ciri-ciri khas yang dimiliki oleh ikan cupang hias jantan adalah selain warnanya yang indah, siripnya pun panjang dan menyerupai sisir serit, sehingga sering disebut cupang serit. Sedangkan ikan betina warnanya tidak menarik (kusam) dan bentuk siripnya lebih pendek dari ikan jantan.
Ciri ikan jantan untuk dipijahkan :

Umur ± 4 bulan
Bentuk badan dan siripnya panjang dan berwarna indah.
Gerakannya agresif dan lincah.
Kondisi badan sehat (tidak terjangkit penyakit).

Ciri-ciri ikan betina :

Umur telah mencapai +- 4 bulan
Bentuk badan membulat menandakan siap kawin.
Gerakannya lambat.
Sirip pendek dan warnanya tidak menarik.
kondisi badan sehat.

Pemijahan dan perawatan ikan

Setelah induk cupang hias dipersiapkan begitu pula dengan wadahnya maka langkah selanjutnya adalah melakukan pemijahan :

  1. Persiapkan wadah baskom/akuarium kecil dan bersih.
  2. Isi wadah dengan air bersih dengan ketinggian 15 - 30 Cm.
  3. Masukkan induk ikan cupang jantan lebih dahulu selama 1 hari.
  4. Tutup wadah dengan penutup wadah apa saja.
  5. Sehari kemudian (sore hari) induk betina telah matang telur dimasukan ke dalam wadah pemijahan.
  6. Biasanya pada pagi harinya ikan sudah bertelur dan menempel disarang berupa busa yang dipersiapkan oleh induk jantan.
  7. Induk betina segera dipindahkan dan jantannya dibiarkan untuk merawat telur sampai menetas.

Pembesaran anak

  1. Ketika burayak ikan cupang sudah dapat brenang dan sudah habis kuning telurnya, sudah harus disiapkan media yang lebih besar untuk tempat pembesaran.
  2. Pindahkan anakan bersama induk jantannya.
  3. Kemudian benih ikan diberi makanan kutu air dan wadah ditutup.
  4. Sepuluh hari kemudian anak ikan dipindahkan ke tempat lain.
  5. Dan selanjutnya setiap satu minggu, ikan dipindahkan ke tempat lain untuk lebih cepat tumbuh.

Pasca Panen

Pasca panen yaitu setelah ikan cupang hias mencapai 1 bulan sudah dapat dilakukan pemanenan sekaligus dapat diseleksi atau dipilih. Ikan yang berkwalitas baik dan cupang hasil seleksi dipisahkan dengan ditempatkan ke dalam botol-botol tersendiri agar dapat berkembang dengan baik serta menghindari perkelahian. Setelah usia 1,5 sampai 2 bulan cupang hias mulai terlihat keindahannya dan dapat dipasarkan.

POSDAYA MINAMAKMUR PEMBUATAN PAKAN IKAN SENDIRI

 

KKN PENIDON Bahan-Bahan Untuk Pakan Buatan

A. Bahan Hewani

1. Tepung Ikan
Bahan baku tepung ikan adalah jenis ikan rucah (tidak bernilai ekonomis) yang berkadar lemak rendah dan sisa-sisa hasil pengolahan. Ikan difermentasikan menjadi bekasem untuk meningkatkan bau khas yang dapat merangsang nafsu makan ikan. Lama penyimpanan < 11-12 bulan, bila lebih dapat ditumbuhi cendawan atau bakteri, serta dapat menurunkan kandungan lisin yang merupakan asam amino essensial yang paling essensial sampai 8%. Kandungan gizi: protein=22,65%; lemak=15,38%; Abu=26,65%; Serat=1,80%; Air=10,72%; Nilai ubah=1,5–3.
Cara pembuatannya:

a) Ikan direbus sampai masak, diwadahi karung, lalu diperas.

b) Air perasan ditampung untuk dibuat petis/diambil minyaknya.

c) Ampasnya dikeringkan dan digiling menjadi tepung.

2. Tepung Rebon dan Benawa
Rebon adalah sejenis udang kecil yang merupakan bahan baku pembuatan terasi. Benawa adalah anak kepiting laut. Rebon dan Benawa muncul pada awal musim hujan di sekitar muara sungai, mengerumuni benda yang terapung.
Cara pembuatan:

a) Bahan direbus sampai masak, diwadahi karung, lalu diperas;

b) Ampasnya dikeringkan dan digiling menjadi tepung.

Kandungan gizi: Protein: Udang rebon=59,4% (udang rebon), 23,38% (benawa); Lemak =3,6% (Udang rebon), 25,33% (Benawa); Karbohidrat 3,2% (Udang rebon), 0,06% (benawa); Abu=11,41% (Benawa); Serat=11,82% (Benawa); Air=21,6% (Udang rebon); 5,43% Benawa ,Nilai ubah: Benawa=4–6

3. Tepung Kepala Udang

Bahan yang digunakan adalah kepala udang, limbah pada proses pengolahan udang untuk ekspor. Cara pembuatannya:

a) Bahan direbus, dijemur sampai kering dan digiling;

b) Tepung diayak untuk membuang bagian-bagian yang kasar dan banyak mengandung kitin.

Kandungan gizinya: Protein= 53,74%; Lemak= 6,65%; Karbohidrat= 0%; Abu= 7,72%; Serat kasar= 14,61%; Air= 17,28%.

4. Tepung Anak Ayam

Bahan: anak ayam jantan dari perusahaan pembibitan ayam petelur. Cara pembuatan:

a) Anak-anak ayam dimatikan secara masal, bulu-bulunya dibakar dengan lampu semprot. Kemudian direbus sampai kaku (setengah masak).

b) Diangin-anginkan sampai kering dan digiling beberapa kali sampai halus. Hasil gilingan yang masih basah disebut pastadan dapat langsung digunakan.

c) Pasta dapat dikeringkan dan digiling menjadi tepung.

Kandungan gizinya: Protein=61,65%, Lemak=27,30%, Abu=2,34%, Air=8,80%, Nilai ubah=5–8. Juga mengandung hormon, enzim, vitamin, dan mineral yang dapat merangsang nafsu makan dan pertumbuhan.

5. Tepung Kepompong Ulat Sutra

Bahan: kepompong ulat sutra yang merupakan limbah industri pemintalan benang sutra alam. Kandungan gizinya: Protein= 46,74%, Lemak= 29,75%, Abu= 4,86%, Serat= 8,89%, Air= 9,76%, Nilai ubah= 1,8.

6. Ampas Minyak Hati Ikan

Bahan: amapas hati ikan yang telah diperas minyaknya. Cara pembuatannya:

a) digunakan sebagai pasta, karena kandungan lemaknya tinggi, sehingga sukar dikeringkan.

b) Digiling halus sampai bentuknya seperti pellet.

Kandungan gizinya: Protein= 25,08%, lemak= 56,75%, Abu= 6,60%, Air=12,06%, Nilai ubah= 8.

7. Tepung Darah

Bahan: darah, limbah dari rumah pemotongan ternak. Cara pembuatannya:

a) darah beku yang masih mentah dimasak dan dikeringkan

b) kemudian digiling menjadi tepung.

Kandungan gizinya: Protein= 71,45%, Lemak= 0,42%,Karbohidrat= 13,12%, Abu= 5,45%, Serat= 7,95%, Air= 5,19. Proteinnya sukar dicerna, sehingga penggunaannya untuk ikan < 3% dan untuk udang < 5%.

8. Silase Ikan

Bahan: ikan rucah dan limbah pengolahan.

Silase adalah hasil olahan cair dari bahan baku asal ikan/limbahnya.

Cara pembuatan:

a) Bahan dicuci, dicincang kecil-kecil, kemudian digiling. Hasil gilingan direndam dalam larutan asam formiat 3% 24 jan, kemudian diperas.

b) Air perasan ditampung dan lapisan minyak yang mengapung di lapisan atas disingkirkan.

c) Cairan yang bebas minyak dicampur dengan ampas dan ditambah asam propionat 1%, untuk mencegah tumbuhnya bakteri / cendawan dan menambah daya awet ± 3 bulan dengan pH ± 4,5.

d) Bahan diperam selama 4 hari dan diaduk 3- 4 kali sehari.

e) Bahan cair yang bersifat asam dapat dicampur dengan dedak, ketela pohon/tepung jagung dengan perbandingan 1:1, dikeringkan dan digunakan untuk campuran dalam ramuan makanan.

Kandungan gizinya: Protein=18-20%, Lemak=1-2%, Abu=4-6%, Air=70- 75%, Kapur=1-3%, Fosfor=0,3-0,9%.

9. Arang Bulu Ayam dan Tepung Tulang

Bahan: arang bulu ayam, tulang ternak.

Cara pembuatan: Tulang dipotong sepanjang 5-10 cm, direbus selama 2-4 jam dengan suhu 100 ° C, kemudian dihancurkan hingga menjadi serpihan-serpihan sepanjang 1-3 cm. Serpihan tulang direndam dalam air kapur 10% selama 4-5 minggu dan dicuci dengan air tawar. Pemisahan selatin dengan jalan pemanasan 3 tahap, yaitu pada suhu 60 ° C selama 4 jam, suhu 70 ° C selama 4 jam, dan 100 ° C selama 5 jam. Pemrosesan selatin. Tulang dikeringkan pada suhu 100 ° C, sampai kadar airnya tinggal 5% dan digiling hingga menjadi tepung. Pengemasan dan penyimpanan.

Kandungan gizinya: Protein=25,54%, Lemak=3,80%, Abu=61,60%, Serat=1,80%, Air=5,52%.

10. Tepung Bekicot

Bahan: daging bekicot mentah dan daging bekicot rebus.

Cara pembuatan: Daging bekicot dikeringkan lalu digiling. Untuk campuran makanan sebesar 5-15%.

Kandungan gizi: Protein=54,29%, Lemak=4,18%, Karbohidrat=30,45%, Abu=4,07%, Kapur=8,3%, Fosfor=20,3%, Air=7,01.

11. Tepung Cacing Tanah

Dapat menggantikan tepung ikan, dapat diternak secara masal. Jumlah penggunaan dalam ramuan 10-25%. Cara pembuatan: Cacing dikeringkan lalu digiling. Kandungan proteinnya 72% dan mudah diserap dinding usus.

12. Tepung Artemia

Dapat menggantikan tepung ikan/kepala udang.

Kandungan protein (asam amino essensial) untuk burayak 42% dan dewasa 60%, sedangkan asam lemak tak jenuh untuk burayak 20% dan dewasa 10%. Daya cernanya tinggi.

13. Telur Ayam dan Itik

Bahan: telur mentah atau telur rbus. Penggunaan: Telur mentah langsung dikopyok dan dicampur dengan bahan lain. Telur rebus, diambil kuningnya, dihaluskan dan dilarutkan sampai membentuk emulsi atau suspensi. Kandungan gizinya: Protein=12,8%, Lemak=11,5%, Karbohidrat=0,7%, Air=74%.

14. Susu

Bahan: tepung susu tak berlemak (skim). Kandungan gizi: Protein=35,6% Lemak=1,0% Karbohidrat=52,0%, Air=3,5%

B. Bahan Nabati

1. Dedak
Bahan dedak padi ada 2, yaitu dedak halus (katul) dan dedak kasar. Dedak yang paling baik adalah dedak halus yang didapat dari proses penyosohan beras, dengan kandungan gizi: Protein=11,35%, Lemak=12,15%, Karbohidrat=28,62%, Abu=10,5%, Serat kasar=24,46%, Air=10,15%, Nilai ubah= 8.

2. Dedak Gandum
Bahan: hasil samping perusahaan tepung terigu. Tepung yang paling baik untuk pakan ikan adalah “wheat pollard” dengan kandungan gizi: Protein=11,99%, Lemak=1,48%, Karbohidrat=64,75%, Abu=0,64%, Serat kasar=3,75%, Air=17,35%, Nilai ubah=2-3.

3. Jagung
Terdapat 2 jenis, yaitu: (1) Jagung kuning, mengandung protein dan energi tinggi, daya lekatnya rendah; (2) Jagung putih, mengandung protein dan enrgi rendah, daya lekatnya tinggi. Sukar dicerna ikan, sehingga jarang digunakan.

4. Cantel/Sorgum
Berwarna merah, putih, kecoklatan. Warna putih lebih banyak digunakan. Mempunyai zat tanin yang dapat menghambat pertumbuhan, sehingga harus ditambah metionin/penyosohan yang lebih baik. Kandungan gizi: Protein=13,0%, Lemak=2,05%, Karbohidrat=47,85%, Abu=12,6%, Serat kasar= 13,5%, Air=10,64%, Nilai ubah2-5.

5. Tepung Terigu
Berasal dari biji gandum, berfungsi sebagai bahan perekat dengan kandungan gizi: Protein=8,9%; Lemak=1,3%; Karbohidrat=77,3%; Abu=0,06%; Air=13,25%.

6. Tepung Kedele
Keuntungan: mengandung lisin asam amino essensial yang paling essensial dan aroma makanan lebih sedap, penggunaannya ± 10%. Kekurangan: mengandung zat yang dapat menghambat enzim tripsin, dapat dikendalikan dengan cara memasak. Kandungan gizi: Protein: 39,6%, Lemak=14,3%, Karbohidrat=29,5%, Abu=5,4%, Serat=2,8%, Air=8,4%, Nilai ubah=3-5.

7. Tepung Ampas Tahu
Kandungan gizinya: Protein=23,55%, Lemak=5,54%, Karbohidrat=26,92%, Abu=17,03%, Serat kasar=16,53%, Air=10,43%.

8. Tepung Bungkil Kacang Tanah
Bungkil kacang tanah adalah ampas pembuatan minyak kacang. Kelemahannya: dapat menyebabkan penyakit kurang vitamin, dengan gejala sirip tidak normal dan dapat dicegah dengan membatasi penggunaannya. Kandungan gizi: Protein=47,9%, Lemak=10,9%, Karbohidrat =25,0%, Abu=4,8%, Serat kasar=3,6%, Air=7,8%, Nilai ubah=2,7-4.

9. Bungkil Kelapa
Bungkil kelapa adalah ampas dari proses pembuatan minyak kelapa. Sebagai bahan ramuan dapat dipakai sampai 20%. Kandungan gizi: Protein=17,09%, Lemak=9,44%, Karbohidrat=23,77%, Abu=5,92%, Serat kasar=30,4%, Air=13,35%.

10. Biji Kapuk/Randu
Bahan: bungkil kapuk yang telah diambil minyaknya. Kelemahannya: Mengandung zat siklo-propenoid yang bersifat racun bius. Penggunaannya < 5%. Kandungan gizinya: Protein=27,4%, Lemak=5,6%, Karbohidrat=18,6%, Abu=7,3%, Serat kasa=25,3%, Air=6,1 %.

11. Biji Kapas
Bahan: bungkil dari pembuatan minyak. Kelemahannya: mengandung zat gosipol yang bersifat sebagai racun, yaitu merusak hati dan perdarahan/pembengkakan jaringan tubuh. Untuk penggunaannya harus dimasak dulu. Kandungan gizi: Protein=19,4%, Lemak=19,5%, Asam lemak linoleat=47,8%, Asam lemak palmitat=23,4%, Asam lemak oleat=22,9%.

12. Tepung Daun Turi
Kelemahannya: mengandung senyawa beracun : asam biru (HCN), lusein, dan alkoloid-alkoloid lainnya. Kandungan gizinya: Protein=27,54%, Lemak=4,73%, Karbohidrat=21,30%, Abu=20,45%, Serat kasar=14,01%, Air=11,97 %.

13. Tepung Daun Lamtoro
Kelemahannya: mengandung mimosin, dalam pemakaiannya < 5% saja. Kandungan gizinya: Protein=36,82%, Lemak=5,4%, Karbohidrat=16,08%, Abu=1,31%, Serat kasar=18,14%, Air=8,8%.

14. Tepung Daun Ketela Pohon
Kelemahannya: racun HCN/asam biru. Kandungan gizi: Protein=34,21%, Lemak=4,6%, Karbohidrat=14,69%, Air=0,12.

15. Isi Perut Besar Hewan Memamah biak
Bahan: dari rumah pemotongan ternak. Cara pembuatan: dikeringkan, digiling sampai menjadi tepung. Kandungan gizinya: Protein=8,39%, Lemak=5,54%, Karbohidrat=33,51%, Abu=17,32%, Serat kasar=20,34%, Air=14,9%, Nilai ubah=2.

C. Bahan Tambahan

1. Vitamin dan Mineral

Cara memperoleh: dari toko penjual makanan ayam (poultry shop) yang sudah dikemas dalam bentuk premiks (premix).

Premix tersebut mengandung vitamin, mineral, dan asam-asam amino tertentu.

Contoh-contoh merek dagang:

§ Top mix: mengandung 12 macam vitamin (A, D, E, K, B kompleks), 2 asam amino essensial (metionin dan lisin) dan 6 mineral (Mn, Fe, J, Zn, Co dan Cu), serta antioksidan (BHT)

§ Rhodiamix: mengandung 12 macam vitamin (A, D, E, K, B kompleks), asam amino essensia metionin, dan 8 mineral (Mg, Fe, Mo, Ca, J, Zn, Co dan Cu), serta antioksidan.

§ Mineral B12: mengandung tepung tulang, CaCO3, FeSO4, MnSO4, KI, CuSO4, dan ZnCO3, serta vitamin B12 (sianokobalamin).

§ Merek lain: Aquamix, Rajamix U, Pfizer Premix A, Pfizer Premix B.

Penggunaannya : Untuk ikan 1-2% dan untuk udang 10-15%.

2. Garam Dapur (NaCl)

Fungsi: sebagai bahan pelezat (gurih), mencegah terjadinya proses pencucian zat-zat lain yang terdapat dalam ramuan makanan ikan. Penggunaannya cukup 2%.

3. Bahan Perekat

Contoh bahan perekat: agar-agar, gelatin, tepung terigu, tepung sagu, dll. Yang paling baik adalah tepung kanji dan tapioka. Penggunaannya cukup 10%.

4. Antioksidan

Bahan: fenol, vitamin E, vitamin C, etoksikulin (1,2dihydro-6-etoksi-2,2,4 trimethyquinoline), BHT (butylated hydroxytoluena), dan BHA (butylated hydroxyanisole).

Penggunaannya: etoksikulin 150 ppm, BHT dan BHA 200 ppm.

5. Ragi dan Ampas Bir

Ragi adalah sejenis cendawan yang dapat merubah karbohidrat menjadi alkohol dan CO2.

Macam ragi: ragi tape, ragi roti, dan bir.

Kandungan gizi: Protein=59,2%, Lemak=0, Karbohidrat=38,93%, Abu=4,95%, Serat kasar=0, Air=6,12%.

Ampas bir merupakan limbah pengolahan bir.

Kandungan gizinya: Protein=25,9%, Serat kasar=15%

Penggunaannya: ampas bir basah 3-6% dan kering 10%.

Kamis, 28 Oktober 2010

Peningkatan Potensi Tuna

Optimalkan Potensi Tuna, Dinas Kelautan dan Perikanan Sumatera Barat Rangkul Dunia Pendidikan

     Meski telah ditetapkan sebagai sentra Perikanan tuna nasional, potensi produksi perikanan tuna yang dimiliki Provinsi Sumatera Barat saat ini masih belum dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat kelautan dan perikanan setempat. Dalam Seminar Nasional Pembangunan Kelautan di Universitas Andalas (Unand) Padang (6/10), Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Barat, Yosmeri menyatakan kendala yang dihadapi saat ini adalah minimnya sumberdaya manusia serta teknologi dibidang kelautan dan perikanan yang dapat diterapkan secara mudah oleh para pemangku kepentingan. “Saat ini kebutuhan akan SDM dan peningkatan alih teknologi kelautan di Sumatera Barat sudah sangat mendesak sehingga dibutuhkan adanya terobosan-terobosan untuk memenuhi kebutuhan tersebut”, demikian diungkapkan Yosmeri. Melihat permasalahan tersebut, maka DKP Sumbar terus melakukan pendekatan kepada dunia pendidikan tinggi di Sumatera Barat untuk mengatasi keterbatasan yang dihadapi.

     Atas upaya yang dilakukan oleh DKP Sumbar, maka Universitas Andalas Sebagai penyedia SDM yang berkualitas di Sumatera Barat, berencana untuk membuka program studi baru di bidang teknologi kelautan dengan menggandeng Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) yang telah jauh lebih dulu memiliki program studi serupa. Pembantu Rektor IV Unand, Prof. Helmi menyatakan dengan potensi yang demikian melimpah, sangat disayangkan apabila Sumbar tidak memiliki pendidikan formal yang memadai sebagai tempat lahirnya SDM yang handal serta penyediaan alih teknologi yang mudah diterapkan.

Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Ekonomi, Sosial,  dan Budaya, Suseno saat menjadi keynote speaker memberikan apresiasi yang besar terhadap upaya yang telah dilakukan oleh pihak Pemeritah Provinsi Sumbar serta Unand dan ITS dalam mendukung Visi dan Misi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). “Kerjasama yang telah dilakukan oleh Unand dan ITS dalam menjawab kebutuhan yang dilontarkan oleh DKP Sumbar merupakan salah satu dari 4 Pilar Grand Strategy yang dimiliki oleh KKP yakni memperkuat kelembagaan dan SDM secara terintegrasi”, ujar Suseno. Berdasarkan data statistik, produksi Perikanan tuna yang dimiliki oleh Sumatera Barat sejak tahun 2008 menunjukan peningkatan yang sangat signifikan. Tahun 2008 provinsi ini membukukan produksi sebanyak 300 ton yang kemudian meningkat lebih dua kali lipat pada tahun 2009 yakni menjadi 735 ton. Hingga September tahun ini, produksi tuna di Sumbar telah mencapai lebih dari 600 ton dan diproyeksikan mencapai 1000 ton pada akhir tahun 2010 ini. (EAH)

Sabtu, 23 Oktober 2010

Diseases Shrimp Aquaculture Perikanan Unirow Tuban

 

Diases

udang sakit There are a variety of lethal viral diseases that affect shrimp.[16] In the densely populated, monocultural farms such virus infections spread rapidly and may wipe out whole shrimp populations. A major transfer vector of many of these viruses is the water itself; and thus any virus outbreak also carries the danger of decimating shrimp living in the wild.

Penyakit Yellowhead disease, called Hua leung in Thai, affects P. monodon throughout Southeast Asia.[17] It had been reported first in Thailand in 1990. The disease is highly contagious and leads to mass mortality within 2 to 4 days. The cephalothorax of an infected shrimp turns yellow after a period of unusually high feeding activity ending abruptly, and the then moribund shrimp congregate near the surface of their pond before dying.[18]

Penyakit Whitespot syndrome is a disease caused by a family of related viruses. First reported in 1993 from Japanese P. japonicus cultures,[19] it spread throughout Asia and then to the Americas. It has a wide host range and is highly lethal, leading to mortality rates of 100% within days. Symptoms include white spots on the carapace and a red hepatopancreas. Infected shrimp become lethargic before they die.[20]

Penyakit Taura syndrome was first reported from shrimp farms on the Taura river in Ecuador in 1992. The host of the virus causing the disease is P. vannamei, one of the two most commonly farmed shrimp. The disease spread rapidly, mainly through the shipping of infected animals and broodstock. Originally confined to farms in the Americas, it has also been propagated to Asian shrimp farms with the introduction of L. vannamei there. Birds are thought to be a route of infection between farms within one region.[21]

Infectious hypodermal and hematopoietic necrosis (IHHN) is a disease that causes mass mortality among P. stylirostris (as high as 90%) and severe deformations in L. vannamei. It occurs in Pacific farmed and wild shrimp, but not in wild shrimp on the Atlantic coast of the Americas.[22]

There are also a number of bacterial infections that are lethal to shrimp. The most common is vibriosis, caused by bacteria of the Vibrio species. The shrimp become weak and disoriented, and may have dark wounds on the cuticle. The mortality rate can exceed 70%. Another bacterial disease is necrotising hepatopancreatitis (NHP); symptoms include a soft exoskeleton and fouling. Most such bacterial infections are strongly correlated to stressful conditions, such as overcrowded ponds, high temperatures, and poor water quality, factors that positively influence the growth of bacteria. Treatment is done using antibiotics.[23] Importing countries have repeatedly placed import bans on shrimp containing various antibiotics. One such antibiotic is chloramphenicol, which has been banned in the European Union since 1994, but continues to pose problems.[24]

With their high mortality rates, diseases represent a very real danger to shrimp farmers, who may lose their income for the whole year if their ponds are infected. Since most diseases cannot yet be treated effectively, the industry's efforts are focused on preventing disease outbreak in the first place. Active water quality management helps avoid poor pond conditions favorable to the spread of diseases, and instead of using larvae from wild catches, specific pathogen free broodstocks raised in captivity in isolated environments and certified not to carry diseases are used increasingly.[25] To avoid introducing diseases into such disease-free populations on a farm, there is also a trend to create more controlled environments in the ponds of semi-intensive farms, such as by lining them with plastic to avoid soil contact, and by minimizing water exchange in the ponds.[6]

Jumat, 22 Oktober 2010

Pengumuman CPNS Perikanan

perikanan unirow

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA

PENGUMUMAN

Nomor B.598/SJ.2/KP.310/IX/2010

TENTANG 

PENGADAAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

TAHUN 2010

Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam Tahun 2010 berdasarkan Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 237 Tahun 2010 Tanggal 20 September 2010 mendapat Tambahan Formasi Calon Pegawai Negeri Sipil ( CPNS ) untuk pelamar umum, yang akan ditempatkan/ditugaskan untuk mengisi kekosongan jabatan pada Kantor Pusat dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan ketentuan sebagai berikut :

A. PERSYARATAN UMUM

1. Warga Negara Indonesia;

2. Tidak pernah dihukum penjara atau kurungan berdasarkan keputusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap karena melakukan suatu tindak pidana kejahatan;

3. Tidak pernah diberhentikan tidak dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil, pegawai perusahaan atau pegawai swasta;

4. Tidak berkedudukan sebagai CPNS/PNS atau Calon/Anggota TNI/POLRI serta tidak sedang menjalani ikatan kerja dengan perusahaan atau suatu anggota profesi lainnya;

5. Tidak sedang menjalani pendidikan formal;

6. Berkelakuan baik;

7. Sehat jasmani dan rohani;

8. Tidak menjadi anggota dan atau pengurus partai politik;

9. Usia serendah-rendahnya 18 tahun pada tanggal 1 Oktober 2010 dan setinggi-tingginya 35 tahun pada tanggal 31 Desember 2010;

10. Tingkat Pendidikan:

a. Pascasarjana (S2), dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 3,00;

b. Sarjana (S1)/Diploma IV, dan Diploma III, dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 2,75;

untuk Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang Terakreditasi dari BAN-PT.

Apabila di dalam ijazah atau transkrip akademik tidak tertera “Terakreditasi” wajib melampirkan Surat Keterangan dari PTS yang bersangkutan.

c. Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Negeri;

d. Khusus bagi pelamar memilih :

1) Jabatan Peneliti IPK Minimal = 3,00

2) Jabatan Guru IPK Minimal = 3,00 untuk lulusan PTS yang terakreditasi A, minimal 2,75 untuk lulusan PTN/PT yang diselenggarakan oleh pemerintah

3) Jabatan Dosen IPK Minimal = 3,00

11. Bersedia ditempat tugaskan di mana saja di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

Rabu, 11 Agustus 2010

KKN UNIROW TUBAN

Unirow Menjadi Agen Perubahan bagi Masyarakat Desa

08 May 2010

UNIVERSITAS PGRI Rong-golawe (Unirow) Tuban, Jawa Timur, sekitar tiga tahun terakhir ini telah menerapkan pola pemberdayaan masyarakat melalui pos-pos pemberdayaan keluarga (Posdaya) yang dirancang oleh Yayasan Damandiri.

Rektor Unirow Drs Hadi Tugur, MPd, MM, mengatakan dalam dua bulan ini pihaknya akan memfasilitasi pembentukan 100 Posdaya di sekitar 50 desa tertinggal. Unirow juga akan menurunkan 1.000 mahasiswa untuk melakukan kuliah kerja nyata (KKN) tematik Posdaya."Mahasiswa KKN akan dibagi dua gelombang. KKN tematik Posdaya ini sangat efektif karena pola pemberdayaan yang dibangun bersama-sama sesuai dengan kemampuan masyarakat,"kata Hadi kepada Pelita saat berada di Jakarta, Rabu (5/5).

Ukuran keberhasilan mahasiswa KKN, kata dia. bisa dilihat dari hasil kerja yang ditinggalkan oleh para mahasiswa. Hasil kerja itu, bisa berupa fisik misalnya MCK (tempat buang air besar) atau perubahan pola pikir masyarakat desa yang lebih maju.Menurut Hadi, kondisi secara umum masyarakat desa di Tuban masih sangat miskin. Bahkan untuk mengenyam pendidikan dan memenuhi kebutuhan kesehatan pun masih sulit."Sehingga yang perlu digarap adalah mengubah mindset masyarakat di akar rumput ini agar memiliki semangat untuk memberdayakan dirinya dan keluarganya." kata Hadi.

Hadi mengaku beruntungmenjalin kemitraan dengan Yayasan Damandiri, karena banyak program-program pemberdayaan yang sebelumnya tidak terpikirkan,ternyata melalui Posdaya sangat banyak yang bisa digali untuk memberdayakan masyarakat."Program Damandiri sistematis dan lebih mudah diikuti. Pola KKN tematik Posdaya sangat tepat karena bisa dilakukan sesuai dengan kondisi masyarakatnya. Pihak kampus selama ini memberikan pengetahuan, motivasi, dan membangun entre-prenuership," ujarnya.Anjuran Ketua Yayasan Damandiri untuk beternak lele di halaman rumah dan menanam tanaman bergizi, menurut Hadi, sangat membantu meringankan beban keluarga untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

"Kalau dari pihak kampus, kami memberi tanaman buah-buahan seperti manggayang cepat berbuah. Selain untuk penghijauan, buahnya bisa dipanen secara berkala untuk kebutuhan keluarga," ujarnya.Hadi mengatakan saat ini tahapan pemberdayaan di sejumlah desa di Tuban masih dalam tahapan mengubah pola pikir bahwa untuk meraih kesuksesan Itu harus melalui kerja keras dan bergotongroyong."Setiap tiga tahun kami akan evaluasi sejauh mana keberhasilan KKN mahasiswa dan kemajuan dari Posdaya. Tetapi kami secara terus menerus akan membentuk Posdaya-Posdaya baru bersama masyarakat. Kami juga akan mendatangkan dosen pembina Posdaya dari wilayah lain seperti dari IPB Bogor dan UST Yogyakarta," kata Hadi.(dew)